Kopi Tuak, Tradisi Ngopi Nenek Moyang Jambi Tulo

  • Share

ANAK itik bertali rumbai. Sudah rumbai raut-an pula. Aek setitik menjadi sungai. Sudah sungai menjadi lautan.

Itulah sebait pantun yang kerap diucapkan masyarakat Jambi Tulo saat memulai proses menyadap nira dari batang pohon enau.

Sekilas pantun permohonan itu punya makna keberkahan supaya nira yang disadap hasilnya melimpah. Itu terlihat dari ungkapan Aek (air) yang mengalir seperti sungai hingga lautan.

Saat menyadap nira, para penderes harus melakukan proses ngual atau memukul manggar (pangkal pelepah buah nira) secara keliling sebanyak tiga kali. Setelah proses ngual, kemudian dilanjutkan dengan proses mengayun manggar sampai 50 kali supaya air nira masak. Proses mengayun ini seperti menimang bayi yang menandakan bukti kasih sayang.

Saat proses mengayun manggar enau itu Saifudin mulai berpantun. Setelah manggar enau diayun, dilanjutkan proses memotong pangkal manggar. Hasilnya nira yang menetes keluar harus diwadahi dengan tabang (tempat air nira) yang berasal dari bambu jenis mayan berdiameter 5 centimeter.

Dari sekelumit kisah penderes itu, ternyata nira bisa menjadi sajian kopi. Masyarakat di Desa Jambi Tulo menyebutnya kopi tuak, dalam bahasa Melayu, tuak berarti nira.

Meracik kopi tuak cukup mudah, pertama nira direbus di dalam ceret atau panci sampai mendidih, dan harus menggunakan tungku kayu bakar.

Saat nira mulai mendidih kemudian dimasukan varian bubuk kopi robusta secukupnya dan diaduk hingga merata. Setelah proses ini selesai, kemudian rebusan nira yang telah dicampur bubuk itu dituangkan ke dalam gelas kaca. Jadilah kopi tuak.

Kopi tuak pun lebih nikmat disajikan saat masih panas dengan kudapan singkong rebus.

“Rasanya kopinya masih terasa dan rasa manisnya lebih alami, tidak kelat dan manisnya juga lebih segar,” kata Dedy Nurdin, seorang warga Kota Jambi yang sengaja datang ke Jambi Tulo untuk menikmati kopi tuak. ***

Baca Juga   Es Sinom, Minuman Sehat Khas Surabaya

 

  • Share