Lambang Persaudaraan di NTT? Ya Moke

  • Share

MOKE merupakan minuman tradisional dan sering digunakan di upacara adat masyarakat setempat, namun peraturan daerah (Perda) memvonis Moke sebagai barang haram di Kupang, dengan alasan tingginya kecelakaan lalu lintas akibat sopir mabuk. Petugas sering merazia minuman tersebut di Pelabuhan Bolok, Kupang.

Moke terbuat dari pohon lontar dan enau. Di banyak tempat lain di NTT, seperti di Pulau Rote dan Timor, minuman keras ini sering disebut sopi. Ada pun warga Ende menyebutnya DW. Apa pun sebutannya, moke merupakan simbol pergaulan bagi masyarakat setempat.

Moke ini terbuat dari hasil penyulingan buah dan bunga pohon lontar maupun enau yang prosesnya dilakukan secara tradisional. Penyulingan moke ini sering dilakukan warga di kebun- kebun pertanian warga menggunakan alat tradisional seperti periuk tanah yang digunakan untuk memasak.

Untuk menghasilkan moke berkualitas, butuh keuletan dan kesabaran. Satu botol Moke butuh 5 jam, karena menunggu tetesan demi tetesan dari alat penyulingan yang menggunakan bambu.

“Kalau kualitas terbaik, sehari kami hanya bisa hasilkan 3 atau 4 botol,” kata Paulus, seorang penyuling moke asal Aimere, kecamatan di Ngada.

Moke dengan kualitas terbaik itu sering disebut masyarakat dengan “BM” alias bakar menyala. Paulus mengklaim moke tersebut memiliki khasiat menyehatkan dan tidak memabukkan.

“”Tapi kalau kebanyakan minum, pasti mabuk,” ujar Paulus.

Di luar Kupang, moke mudah ditemukan di warung pinggir jalan, seperti di Aimere. Harganya berkisar antara Rp 15-20 ribu per botol air kemasan sedang. Meski dijual layaknya bensin eceran, jangan kira moke minuman pinggiran.

Arak tradisional itu juga menyentuh kalangan atas, terutama pejabat daerah. “Moke sudah menjadi lambang persaudaran bagi warga disini,” kata salah seorang pejabat setempay saat diminta komentarnya. ***

Baca Juga   Dadiah, Yogurt dari Ranahminang

 

  • Share