Ciri-Ciri dan Misteri Perkutut Lokal

  • Share
Ciri-Ciri dan Misteri Perkutut Lokal
Ciri-Ciri dan Misteri Perkutut Lokal

BuliranNews – Burung perkutut atau juga akrab disebut kutut merupakan salah satu jenis hewan peliharaan yang populer. Selain kicauan dan tampilannya yang menarik, prosedur perawatan hewan ini juga sangat mudah. Namun, misteri perkutut lokal juga menjadi bahasan tersendiri di antara para pemelihara.

Memiliki nama latin Geopelia Striata, burung ini memakan biji-bijian hingga serangga kecil. Suaranya yang khas juga membuat perkutut dilombakan dalam turnamen khusus. Umumnya, perkutut khas Indonesia memiliki ukuran antara 20 hingga 21 cm dan cenderung lebih ramping jika dibandingkan dengan perkutut khas Bangkok Thailand.

Karakteristik Perkutut Lokal

Untuk ekor cukup panjang dan halus dengan kepala berwarna abu-abu serta garis hitam yang melingkar. Jika melihat jenis Bangkok, lokal memang lebih kecil jadi tak sulit untuk membedakannya. Namun rupanya, hal ini pula yang membuat perkutut lokal lebih banyak dipilih ketimbang jenis asal Bangkok.

Di sisi lain, jenis tersebut memiliki berbagai mitos menarik yang dipercaya oleh para kolektor. Kerap disebut perkutut Jawa, burung ini selalu dikaitkan dengan berbagai hal mitos dan gaib. Ada berbagai cerita yang berkembang jika perkutut mempunyai khodam yang menghubungkannya dengan dunia mistis.

Setiap bagian tubuh hewan ini memiliki makna tersendiri di mata para pemeliharanya, sehingga berdampak pada kehidupan pribadi apakah itu membawa keberuntungan atau justru kesialan. Jenis Katuranggan, merupakan perkutut yang paling banyak dipelihara dan memiliki berbagai misteri. Salah satu mitos dan misteri perkutut yang populer di tengah masyarakat seperti misteri perkutut bunyi malam hari.

Ciri-Ciri Burung Perkutut Katuranggan

Katuranggan adalah ilmu titen atau jawa mengenai bentuk atau ciri tubuh perkutut. Secara spesifik ada dua katuranggan, yakni baik dan buruk. Baik berarti bisa dipelihara karena akan memberi banyak kemudahan sementara buruk artinya tak bisa dipelihara karena memberi pengaruh negatif. Mitos perkutut bunyi malam hariĀ 

Baca Juga   Yang Klasik Yang Dicari : Tahukah Anda, 5 Motor Klasik Ini Paling Diincar Kolektor Lho !!!

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai ciri-ciri perkutut yang baik dan tidak adalah sebagai berikut:

Warna Bulu

Perkutut yang memiliki warna kemerahan atau akrab disebut Brama Sulur. Orang percaya jika memelihara Brama Sulur akan membuat pemiliknya sakit.

Warna Kuku

Perkutut tidak baik memiliki warna kuku putih dan jumlah jari 10. Masyarakat percaya jenis ini akan membuat pemilik terus mengalami kesulitan.

Paruh dan Wajah Putih

Lebih dikenal dengan sebutan Burma Kokap dimana sebagian besar wajah hingga paruhnya berwarna putih. Masyarakat percaya jika Burma Kokap akan mencelakai pemiliknya sehingga harus segera dilepaskan.

Manggung Malam dan Siang

Sering disebut Dugana Gerik. Cuitan jenis ini biasa keluar hanya saat malam dan siang saja. Mitos Dugana Gerik adalah menjauhkan pemiliknya dari rezeki serta menimbulkan berbagai selisih paham antar keluarga.

Manggung saat Malam

Serupa dengan Dugana Gerik jenis burung perkutut yang hanya bersuara saat malam juga lebih baik dilepaskan. Biasa disebut Durgana Gawih, jenis ini dipercaya akan memberi kesialan kepada keluarga dan menjauhkan dari rezeki.

Bulu Tak Beraturan

Umum disebut Lembu Ruan, jika memelihara jenis seperti ini pemilik dianggap akan sakit-sakitan dalam waktu lama tanpa sebab apapun. Itulah kenapa bentuk bulu sangat diperhatikan oleh para kolektor sebelum membeli.

Bulu Kehitaman

jenis terakhir adalah Wisnu Tinudung atau perkutut dengan bulu kehitaman. Banyak orang percaya jika memilih jenis burung ini akan memberi kesialan dan tidak bisa dihindari setelahnya

Itulah beberapa ciri-ciri dari mitos perkutut lokal. Salah satu mitos yang populer di kalangan masyarakat adalah mengenai mitos perkutut bunyi malam hari. Konon kabarnya perkutut semacam ini memiliki khodam ataupun gaib yang menyertainya. Percaya atau tidak, semua tergantung pilihan Anda dalam memilih berdasarkan kebutuhan dan tradisi. Semoga bisa menjadi referensi dalam memilih jenis terbaik dengan berbagai pertimbangan. (red)

  • Share