Manjakan Selera dengan Ikan Sepit Bakar, Sajian Khas Muratara

  • Share

KABUPATEN Musi Rawas Utara (Muratara) memiliki sungai dan rawa yang di dalamnya hidup berbagai jenis ikan air tawar. Salah satu olahan ikan yang populer di kabupaten itu adalah pindang dan ikan sepit.

Namun, kali ini pembahasan kita hanya mengenai ikan sepit. Ikan sepit adalah namanya, bukan nama dari ikan yang digunakan. Sepit berarti dijepit. Ikan dijepit menggunakan bambu lalu dibakar di atas perapian hingga matang.

Bagi warga Kabupaten Muratara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, ikan sepit sudah sangat melegenda.

Sejak dulu, warga di desa-desa sudah terbiasa membuat ikan sepit. Warga membuat ikan sepit untuk dikonsumsi keluarga, namun kini sudah terdapat beberapa rumah makan setempat yang menyediakan ikan sepit di Kecamatan Rupit, ibu kota Muratara.

Dalam olahan sederhana di desa-desa, ikan sepit biasa dikonsumsi langsung setelah dicocol dengan sambal tomat atau sambal terasi.

Namun, tidak jarang juga digulai santan dengan campuran sejumlah sayuran atau ada juga yang dimasak menjadi pindang.

“Ikan sepit itu masakan ibu-ibu sejak zaman dahulu. Kalau orang tua biasanya senang dibuatkan ikan sepit,” ujar Suryati, anggota PKK warga Kampung III Desa Maur, Kecamatan Rupit, Muratara.

Tidak ada ikan khusus untuk membuat ikan sepit. Berbagai jenis ikan di sungai atau sawah dapat digunakan. Seperti ikan lambak dan ikan betutu. Begitu juga dari sawah atau rawa seperti ikan betok, ikan sepat, dan bahkan ikan gabus.

Biasanya dalam pengolahan, ikan dibersihkan kemudian dijepit menggunakan bambu. Lalu diletakkan di atas bara api selama waktu tertentu. Di sinilah perbedaannya dengan ikan bakar atau ikan panggang lain.

Ikan sepit dimasak tanpa tambahan bumbu atau rempah-rempah. Melainkan hanya dicuci hingga bersih dan ditambahkan garam jika diinginkan.

Baca Juga   Gulai Itiak, Kuliner Khas Bukittinggi

Ikan sepit dapat langsung dimakan sebagai lauk dengan cocolan sambal atau kecap dengan potongan bawang dan cabai hijau, jika dibakar dengan sedikit garam.

Tidak sedikit juga ikan dibakar tanpa tambahan apapun, layaknya ikan asap di Kota Palembang. Ikan sepit yang tawar ini biasanya diolah lagi menjadi gulai pindang atau santan.

Ikan sepit merupakan olahan ikan harian alias bukan kuliner khusus momen tertentu. Terutama di musim ikan yang banyak, misalnya musim ikan kemudik atau bertelur, banyak masyarakat yang membuat ikan sepit.

Asap menyeruak di sekitar rumah warga yang sebagian besar rumah panggung. Ikan sepit dibakar di samping atau di bawah rumah dengan menggunakan kayu bakar yang diambil di sekitar desa. Biasanya ikan sepit dibakar pagi atau menjelang sore hari.

Menurut cerita, ikan sepit juga menjadi solusi ketika tidak tersedia minyak goreng atau bahan memasak lain. Karena ikan cukup dibersihkan dan dibakar.

Karena itu, di zaman dahulu di kebun-kebun karet atau ladang, warga yang tinggal jauh di ladang banyak yang membuat ikan sepit.

Saat ini, kuliner khas yang melegenda ini telah tersedia cukup banyak di sejumlah rumah makan di Muratara.

Karenanya jika ingin mencoba dapat mampir ke kabupaten termuda di Sumsel ini. Daerah ini dilintasi Jalan Lintas Tengah (Jalinteng) Sumatera.

Bagi pemudik dari Pulau Jawa yang biasa pulang kampung ke Pekan Baru, Sumbar, Medan, dan Aceh, tentu sudah biasa melintasi daerah ini.

Ketika melintasi Kecamatan Rupit, tinggal mampir dan tanyakan rumah makan pindang yang banyak berdiri di pinggir Sungai Rawas. Di situ tersedia ikan sepit.

Jika sedang mengunjungi Kota Lubuk Linggau yang memiliki bandara yang melayani penerbangan langsung ke Jakarta dan Kota Palembang, tidak salah lanjut ke Rupit, Muratara, yang dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar 40 menit.

Baca Juga   Sambal Lu'at, Rasanya Pedas Namun Menyegarkan!

Ikan sepit memang tidak hanya terdapat di Muratara. Di sejumlah kabupaten lain seperti Lahat juga ada ikan sepit. Namun, keberadaannya tidak menjadi legenda dan khas seperti di Muratara.***

  • Share