Tak Mau di Lock Down, Buruh Pabrik iPhone Kabur Berjalan Kaki

Avatar Of Teddy Chaniago
1. Buruh | Buliran.com

BuliranNews, ZHENGHOU  – Lock down atau penguncian ternyata membuat siapapun kalang kabut. Tak hanya di dalam negeri, di luar negeri pun ini terjadi. Buruh yang bekerja di pabrik produsen iPhone, Foxconn di Zhengzhou, China misalnya, mereka terpaksa melarikan diri setelah wabah Covid-19 memaksa staf untuk ‘lockdown’ di tempat kerja.

Memang saat ini pengusaha di China sedang berjibaku dengan kebijakan nol-Covid yang dilakukan oleh pemerintahan Xi Jinping.

“Saya hanya membawa tas tangan, tiga bungkus mie instan, empat botol susu, dua botol air dan beberapa roti,” kata seorang pekerja Foxconn yang melarikan diri, dikutip dari AFP, Rabu (2/11).

Pekerja bernama Li Yan itu mengaku berjalan selama tiga jam setelah meninggalkan fasilitas pabrik. Ia mengungkap hal tersebut kepada media yang dikelola pemerintah, China Newsweek.

Video yang banyak beredar di internet menunjukkan karyawan Foxconn melarikan diri dari perusahaan dan kembali ke kota asal mereka dengan berjalan kaki. Tindakan ini mereka lakukan dalam upaya untuk menghindari pembatasan perjalanan Covid.

Pabrik iPhone terbesar di dunia itu tengah mengatakan kepada staf bahwa mereka akan melipatgandakan bonus mereka jika mereka tetap di pabrik setelah banyak pekerja melarikan diri demi menghindari pembatasan Covid-19.

Pabrik Foxconn di Zhengzhou mengatakan di akun WeChat resminya bahwa, mulai Selasa (1/11), karyawan akan menerima bonus harian sebesar 400 yuan bagi yang mau untuk datang bekerja. Jumlah ini empat kali lipat dari subsidi sebelumnya sebesar 100 yuan sehari.

Staf juga akan menerima bonus tambahan jika mereka bekerja selama 15 hari atau lebih di bulan November. Jadi jika datang satu bulan, mereka bisa menghasilkan 15.000 yuan (sekitar Rp 33 juta).

Baca Juga   Penjara di Ekuador Rusuh, 24 Napi Tewas

Pabrik iPhone terbesar di dunia itu tengah mengatakan kepada staf bahwa mereka akan melipatgandakan bonus mereka jika mereka tetap di pabrik setelah sejumlah pekerja melarikan diri dari wabah Covid di fasilitas tersebut.

China adalah ekonomi utama terakhir yang berkomitmen pada strategi nol-Covid, bertahan dengan penguncian atau lockdown, pengujian massal, dan karantina yang panjang dalam upaya untuk membasmi wabah yang muncul.

Tetapi varian baru terus muncul dan menguji kemampuan pejabat lokal untuk memadamkan wabah lebih cepat. Tindakan cepat pemerintah ini menyebabkan sebagian besar negara itu hidup di bawah mosaik pembatasan Covid-19 yang terus berubah. (*/dem/cic)