Hukum  

Nasib Tenaga Kerja Migran Asal Sumbar di Malaysia : Gaji Tak Dibayar, Dianiaya Pula

DPLN Induk Keluarga Minangkabau Malaysia, Fokus Urus Persoalan Zailis

Avatar Of Teddy Chaniago
12.1 Tengok | Buliran.com
BEZOEK - Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Hermono (baju putih), saat menjenguk Zailis di Hospital Selayang, Selangor, Malaysia.

BuliranNews, SELANGOR – Kabar duka dari Negeri Jiran Malaysia, dimana tenaga kerja migran asal Sumatera Barat bernama Zailis (46), menjadi korban kesewenang-wenangan majikannya di Selangor Malaysia.

Tak hanya gajinya yang tak dibayarkan sejumlah hampir RM32.000 (sekitar 110 juta rupiah), korban juga dianiaya sehingga harus dirawat di RS Selayang, Selangor. Malah, kondisi tubuh korban sangat memprihatinkan dengan anjloknya berat badan korban sekitar 30 Kg lebih.

Pemuka masyarakat Minangkabau di Malaysia yang juga pengurus Dewan Perwakilan Luar Negeri Induk Keluarga Minangkabau Malaysia, Harwin Darwis menyebutkan, saat ini mereka tengah fokus mengurusi persoalan yang membelit korban.

“Kami dari DPLN Induk Keluarga Minangkabau Malaysia dan jajaran Pertubuhan Jaringan Masyarakat Minangkabau Malaysia (PJ3M) terus mengupayakan untuk melakukan pendampingan kepada korban,” kata Harwin Darwis saat dihubungi BuliranNews.

Harwin menyebutkan, korban yang belum diketahui daerah asalnya, datang ke Malaysia untuk mengubah nasib sejak tiga tahun silam. Dan selama tiga tahun itu pula, korban mendapat perlakuan kasar.

“Ironisnya, apa yang diharapkan korban tak sesuai dengan yang diimpikannya, sang majikan justru memperlakukan korban dengan tidak manusiawi. Mukanya pernah dipukul kayu, gaji tidak dibayar bahkan tubuh korban juga disiram dengan air panas,” terangnya.

Melalui BuliranNews, Harwin Darwis memohon doa pada keluarga Besar Induk Keluarga Minangkabau untuk memberikan suport dan doa agar pendampingan yang dilakukan DPLN Induk Keluarga Minangkabau berjalan sebagaimana diharapkan.

12. Dpln Malaysia.jpg | Buliran.com
Fokus – Dpln Induk Keluarga Minangkabau Malaysia, Saat Fokus Menangani Persoalan Hukum Yang Membelit Zailis.

“Tak hanya itu, dari jauh kami mendoakan agar agenda pelantikan pengurus DPP Induk Keluarga Minangkabau berjalan lancar dan kami ucapkan selamat kepada mereka-mereka yang dipercaya duduk di kepengurusan,” ucapnya.

Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Hermono membenarkan peristiwa penganiayaan yang dialami oleh Zailis tersebut.

Baca Juga   Deretan Nama 23 Koruptor yang Bebas Bersyarat dari Lapas Tangerang dan Sukamiskin

Menurut Hermono, perbuatan kejam itu terbongkar setelah korban kabur dan melapoirkan kekejaman yang dialaminya ke kantor polisi.

“Untuk sementara, yang bersangkutan sudah dalam pengamanan kedutaan,” kata Hermono, Jumat (2/9).

Hermono juga menjelaskan, sejak bekerja pada 2019 silam, korban hanya diberi upah RM900 pada tiga bulan pertama. Setelah itu, hak korban tak pernah lagi diberikan, malah korban tak diperkenankan berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia maupun orang luar.

“Ketika saya mengunjungi ke Hospital Selayang semalam (Khamis), korban mungkin kehilangan pendengaran akibat penyiksaan yang parah di bagian telinga,” kata Hermono.

Korban, masih menurut Hermono, mengalami trauma dan selalu meminta tolong agar diselamatkan. Korban dalam idauannya juga minta pulang ke Indonesia untuk berkumpul lagi dengan keluarganya.

Hermono berharap, polisi dan kerajaan untuk mengambil tindakan tegas dan mengenakan hukuman mengikuti aturan sebagaimana termaktub dalam Seksyen 12 Akta Anti Pemerdagangan Orang dan Anti Penyeludupan Migrain (ATIPSOM) 2007.

“Kita di Kedutaan akan terus memantau kasus itu agar perkara yang sama tidak terjadi kepada pembantu rumah yang lain,” tambah Hermono.

Sementara itu, Kementerian Sumber Daya Manusia Malaysia, telah menginstruksikan Departemen Tenaga Kerja di Semenanjung Malaysia untuk menyelidiki kasus penyiksaan yang melibatkan pembantu rumah tangga Indonesia tersebut.

Menteri Sumber Daya Manusia Malaysia, Datuk Seri M Saravanan mengatakan, pemerintah Malaysia tidak akan melindungi identitas majikan yang ditemukan bertindak di luar batas kemanusiaan, meskipun masih dalam tahap penyelidikan.

Saravanan mengatakan, tindakan tegas akan dilakukan jika terbukti tidak mematuhi undang-undang ketenagakerjaan, termasuk tindakan yang bertentangan dengan unsur kerja paksa dan human trafficking.

“Pemerintah Malaysia tidak akan pernah berkompromi dengan segala bentuk kekerasan dan penindasan terhadap pekerja manapun, termasuk orang asing,” kata Saravanan, Jumat (2/9). (*/isc)

 

Baca Juga   Penahanan & Pasal Berlapis Menanti Brigadir NP