Jam Gadang, Arsitektur Kebanggaan Masyarakat Kurai dan Sejarah Kehadirannya

Avatar Of Teddy Chaniago
15. Jam Scaled | Buliran.com

TAK ADA yang menyangkal kalau Kota Bukittinggi kota terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat. Kota dengan hawa yang sejuk ini, pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Kota ini juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatera dan Provinsi Sumatera Tengah.

Selain beragam catatan sejarah tersebut, di kota yang oleh Belanda juga diberikan julukan sebagai Parijs van Sumatra, berdiri sebuah bangunan megah nan sarat sejarah persis di tengah kota.

Ya, bangunan tersebut adalah sebuah monumen yang dibingkai dengan sebuah jam besar di bagian atasnya. Bangunan yang dikenal dengan nama Jam Gadang itu, merupakan simbol ikonik di Provinsi Sumatra Barat yang tentunya menjadi kebanggaan yang tak terhingga bagi masyarakat Kurai yang merupakan warga asli Kota Bukittinggi.

Tak jarang para wisatawan yang menjadikan tempat ini sebagai tujuan utama wisatanya. Bagaimana tidak, menara jam yang besar ini memang terbilang sangat unik dan memiliki sejarah di dalamnya.

Jam Scaled | Buliran.com

Sejarah Jam Gadang

Jam Gadang adalah sebuah menara jam yang merupakan markah tanah kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun.

Nama Jam Gadang diberikan oleh masyarakat Minangkabau kepada bangunan menara jam itu, karena memang menara itu mempunyai jam yang “gadang“, atau “jam yang besar” (jam gadang=jam besar; “gadang” berarti besar dalam bahasa Minangkabau).

Ikon Kota Bukittinggi

Adanya fenomenal bangunan menara jam bernama Jam Gadang yang sangat menarik pada waktu dibangun, sehingga sejak berdirinya Jam Gadang telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang dijadikan penanda atau markah tanah Kota Bukittinggi dan juga sebagai salah satu ikon provinsi Sumatera Barat.

Baca Juga   Deretan Masjid Terunik di Dunia

Mesin Jam Gadang diyakini hanya ada dua di dunia. Kembarannya tentu saja yang saat ini terpasang di Big Ben, Inggris. Mesin yang bekerja secara manual tersebut oleh pembuatnya, Forman (seorang bangsawan terkenal) diberi nama Brixlion.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota).

15.1 Jam | Buliran.com

Transformasi Bentuk Jam Gadang

Pada masa penjajahan Belanda, jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan, sedangkan pada masa pendudukan Jepang, berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.

Ukuran diameter jam ini adalah 80 cm, dengan denah dasar 13×4 meter sedangkan tingginya 26 meter. Pembangunan Jam Gadang yang konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden ini, akhirnya menjadi markah tanah atau lambang dari kota Bukittinggi.

Ada keunikan dari angka-angka Romawi pada Jam Gadang ini. Bila penulisan huruf Romawi biasanya pada angka enam adalah VI, angka tujuh adalah VII dan angka delapan adalah VIII, Jam Gadang ini menulis angka empat dengan simbol IIII (umumnya IV). (*/ref/yat)