Hanya 3 Persen Warga yang Mengerti Stunting

Avatar Of Teddy Chaniago
5. Teguh.jpg | Buliran.com

BuliranNews, DEPOK – Kata stunting akhir-akhir ini menjadi kata yang sangat akrab dengan telinga kita. Hampir setiap saat kata yang terdiri dari 8 huruf itu menyeruak dalam kehidupan masyarakat.

Namun anehnya, meski akrab di telinga, justru tak banyak yang mengerti akan arti kata stunting itu sendiri. Ini tentu menjadi sebuah hal yang menggelikan sekaligus mengejutkan namun harus diterima secara apa adanya.

Lurah Cilangkap, Teguh Santoso kepada BuliranNews mengatakan, dari sekitar 70.000 jiwa orang yang berdomisili di wilayah yang dipimpinnya, yang mengerti tentang stunting mungkin hanya sekitar 3 persen saja.

“Harus diakui, itulah kenyataannya. Akibat pemahaman yang terbatas tersebut, maka warga gampang saja memvonis seorang anak mengalami stunting,” katanya geleng – geleng kepala.

Menurut Teguh, pengertian stunting secara umum adalah kegagalan dalam proses tumbuh dan kembang bayi. Kondisi ini biasa terjadi akibat kekurangan gizi atau asupan nutrisi dalam waktu yang cukup lama. Bayi yang mengalami stunting akan mengalami perlambatan dalam proses tumbuh baik fisik maupun otaknya.

5. Cegah | Buliran.com

Dari berbagai sumber yang dihimpun BuliranNews, pengertian stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah sebagai keadaan tubuh yang pendek atau sangat pendek di bawah median panjang berdasarkan tinggi badan menurut usia.

“Nilai z-scorenya kurang dari -2SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari – 3SD (severely stunted). Hal ini dapat ditunjukkan dengan keadaan tubuh yang pendek atau sangat pendek, hasil dari gagal pertumbuhan,” sebagaimana tertulis pada laman kemenkes RI.

Sedangkan menurut WHO (World Health Organization) stunting adalah suatu gangguan pertumbuhan irreversibel yang sebagian besar dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang tidak adekuat dan infeksi berulang selama 1000 hari pertama kehidupan. (Global Nutrition Targets 2025)

Baca Juga   Hilangkan Batuk Kering dengan 13 Obat Alami Berikut

Dengan demikian, stunting dapat didefinisikan sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir. Namun, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun seperti anak terlalu pendek untuk usianya.

Pak Lurah Teguh menyebutkan, stunting menggambarkan suatu keadaan malnutrisi yang kronis pada anak balita. Dan penyebab stunting secara umum adalah karena kelainan endokrin dan kelainan non endokrin.

“Namun beberapa studi menyebutkan bahwa penyebab terbanyak dari stunting adalah kelainan non endokrin seperti penyakit infeksi kronis, gangguan nutrisi, kelainan gastrointestinal, penyakit jantung bawaan, pola asuh ibu, faktor sosial ekonomi keluarga dan lain sebagainya,” jelasnya.

Status gizi pada balita secara mendasar menurutnya ditentukan oleh 2 hal yaitu: makanan dan kesehatan. Kualitas dan kuantitas makanan tergantung pada kandungan zat gizi dari makanan tersebut serta ada tidaknya pemberian makanan tambahan

Kekurangan zat gizi dapat disebabkan karena mendapat makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan badan atau adanya ketidakseimbangan antara konsumsi zat gizi dan kebutuhan gizi dari segi kuantitatif maupun kualitatif.

Sedangkan keadaan status gizi yang berhubungan dengan kesehatan adalah karakteristik ibu dan anak dengan ada tidaknya penyakit infeksi dan jangkauan terhadap pelayanan kesehatan.

Terkait persoalan stunting itu sendiri, Kota Depok kata Teguh melahirkan sebuah program yang dinamakan Depok Sukses Bebas Stunting Mewujudkan Depok Ramah Anak (D’Sunting Menara).

“D’Sunting Menara merupakan program Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Depok bersama Perangkat Daerah dan lintas sektor untuk memaksimalkan penanganan stunting,” jelasnya.

Saking fokusnya Pemkot Depok terkait masalah stunting ini, D’Sunting Menara juga sudah dicanangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yakni Zero Stunting.

Baca Juga   Cara Alami Turunkan Gula Darah Tinggi

Terkait persoalan stunting di wilayah yang dipimpinnya, Teguh menjelaskan, sebelum diintervensi, laporan akan penderita stunting disebutkan sebanyak 150 kasus.

“Namun setelah dilakukan intervensi hanya ditemukan sebanyak 72 kasus saja. Dan saat ini, jumlahnya turun drsatis menjadi hanya 21 kasus. Jumlah ini tentunya tidaklah statis, jika posyandu dioptimalkan jumlahnya bisa saja berubah,” ujarnya.

Melalui TP PKK Kelurahan dan Kader Posyandu, Pak Lurah telah menginstruksikan untuk secara serius mendata kemungkinan masih adanya warga Kelurahan Cilangkap yang mengalami stunting.

“Semakin cepat diketahui, tentunya akan semakin mudah dilakukan pengintervensian,” katanya mengakhiri. (ted)