Jadi Kontroversi, Proyek Pengadaan Gorden Rumdin Anggota DPR Dihentikan

4. gorden | Buliran.com

, JAKARTA – Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) , Agung Budi Santoso, mengatakan DPR resmi tak melanjutkan proyek tender pengadaan gorden rumah dinas (rumdin) anggota DPR RI, dengan sebesar Rp 43,5 Miliar. Hal tersebut menjawab pro kontra pengadaan gorden rumah dinas yang ramai dibicarakan publik belakangan ini.

“BURT memutuskan Sekretariat Jenderal untuk tidak melanjutkan pelaksanaan pengadaan gorden, vitrase, dan blind RJA DPR RI Kalibata. Saya kira itu yang menjadi kesimpulan rapat setelah melalui rapat dan diskusi panjang antara BURT dengan Kesetjenan,” kata Agung kepada wartawan dalam konpers, Selasa (17/5).

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Johan Budi Sapto Pribowo. Johan mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah mendengar penjelasan dari Setjen DPR RI.

“Dari pembahasan tadi yang disampaikan baik oleh pak sekjen maupun oleh inspektorat DPR, kami semua sepakat di BURT, jadi tidak ada yang tidak sepakat, termasuk pak sekjen juga sepakat bahwa pengadaan gorden untuk rumah anggota DPR RI tahun 2022 tidak dilanjutkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekjen DPR RI Indra Iskandar menjelaskan, secara kronologis terkait rencana pengadaan gorden. Ia menuturkan DPR tidak pernah melakukan pengadaan gorden selama 14 tahun terakhir. DPR baru mengusulkan pengadaan tersebut pada 2021.

Terkait penentuan harganya, Indra menjelaskan bahwa DPR mencari harga menengah. Menurut dia, DPR tidak mungkin mencari harga yang paling bawah atau harga paling atas.

“Kita mencari titik tengah dari harga gorden yang ada di pasaran, konsultan melakukan sampling ke beberapa toko di daerah Panglima Polim, di daerah Tanah Abang, di Tanjung Duren, dan beberapa tempat dapatlah mencari harga tengah yang dijadikan HPS,” ujarnya.

Baca Juga   Kapolri Apresiasi Maluku Sebagai Provinsi Terbaik Penerapan PPKM

Dari 49 perusahaan yang mendaftar hanya tiga perusahaan yang melakukan penawaran. Dari tiga perusahaan hanya dua yang memenuhi syarat administrasi. “Dari dua perusahaan ini hanya satu yang memenuhi persyaratan teknis,” katanya.

“Kita tahu saat ini di situasi bersama pimpinan BURT mengambil kesimpulan untuk tidak melanjutkan proses ini,” katanya. (*/rpl)