Kerusuhan Penonton di Stadion Nasional Moshood Abiola Berbuntut Denda 2,17 Miliar

Avatar Of Teddy Chaniago
8. Rusuh | Buliran.com

OTORITAS tertinggi sepak bola dunia, FIFA, menjatuhkan sanksi denda sebesar 150 ribu dolar AS atau sekira Rp 2,17 miliar kepada Nigeria. Denda ini dijatuhkan setelah terjadi kerusuhan oleh para penonton di Stadion Nasional Moshood Abiola, Abuja, dalam hasil imbang 1-1 antara Super Eagles dengan Ghana pada playoff Piala Dunia 2022. Hasil imbang tersebut membuat Nigeria tidak lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar.

Dikutip dari All Africa, Selasa (3/5), selain denda, penggemar juga dilarang hadir ke Stadion Moshood Abiola di Abuja karena Nigeria akan menjadi tuan rumah bagi Sierra Leone dalam pertandingan kualifikasi pertama Piala Afrika 2023, bulan depan. Dalam sebuah surat yang dikirim ke Federasi Sepak Bola Nigeria (NFF) pada 1 Mei 2022, FIFA menyetujui arena yang dibangun pada 2003 untuk menjadi tuan rumah kualifikasi melawan Sierra Leone tetapi tanpa penggemar. Ini sebagai hukuman atas kerusuhan yang terjadi setelah Ghana merebut tiket ke Qatar 2022 dengan aturan gol tandang.

Hukuman ini sekarang telah mengakhiri spekulasi di media lokal bahwa Stadion Abuja akan dilarang menjadi tuan rumah pertandingan internasional setelah kerusuhan penonton.Lebih dari 60 ribu penggemar memadati stadion pada pertandingan terakhir Nigeria dari kualifikasi untuk Piala Dunia di Qatar.

Setelah Super Eagles menahan Ghana imbang tanpa gol pada leg pertama di Kumasi, para pendukung tuan rumah mengharapkan kemenangan dan tiket ke penampilan ketujuh Nigeria di Piala Dunia, setelah membuat debut di AS 1994.

Namun the Black Stars mengejutkan tuan rumah, memimpin pada menit ke-10 melalui bintang Arsenal, Thomas Partey. William Troost-Ekong menyamakan pada menit ke-22 lewat penalti, tetapi the Eagles gagal mendapatkan gol penentu kemenangan untuk memberi mereka tiket ke Qatar.

Baca Juga   Deretan Klub Terbaik Asia Sedekade Terakhir

Kegagalan itu terlalu sulit untuk ditelan oleh para penggemar. Mereka menghancurkan bangunan yang menjadi tuan rumah All African Games pada tahun 2003.

Pada saat kerusuhan mereda, kerusakan yang terjadi pada fasilitas tersebut diperkirakan menelan biaya beberapa juta naira untuk memperbaikinya. Tindakan para penggemar tersebut menimbulkan spekulasi di media lokal bahwa stadion mungkin tidak akan menjadi tuan rumah pertandingan internasional apa pun pada masa mendatang. (*/rpl)