Telaah  

Politik, Ekonomi dan Mudik

Avatar Of Teddy Chaniago
5.1 Ujang.jpg | Buliran.com

Oleh : Dr Ujang Komaruddin

MUDIK adalah suatu kegiatan seseorang atau sekolompok orang yang pulang ke kampung halaman atau tempat dilahirkan dengan maksud untuk bertemu orang tua atau karib kerabat serta handai taulan.

Secara etimologi, kata mudik berasal dari kata “udik” yang artinya selatan/hulu. Pada zaman dahulu sebelum di Jakarta terjadi urbanisasi besar-besaran, masih banyak wilayah yang bernama akhir udik atau ilir (utara atau hilir) dan kebanyakan akhiran itu diganti dengan kata Melayu selatan atau utara.

Mudik, sedari dulu telah menjadi tradisi dan aktivitas rutin di akhir bulan Ramadan. Masyarakat Indonesia pun tidak akan menyia-nyiakan momentum satu tahun sekali ini. Mereka akan mempersiapkan moda transportasi yang tepat bertemu keluarga terkasih yang masih tinggal di kampung halaman.

Untuk diketahui, asal muasal kata mudik ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan lebaran. Mudik merupakan singkatan “Muleh Dilik” dalam kamus bahasa Jawa Ngoko artinya pulang sebentar.

Mudik sendiri berarti kegiatan perantau atau pekerja migran kembali ke kampung halaman, namun yang diartikan kembali ke kampung halaman ini dilakukan hanya sebentar saja.

Namun kini sudah terjadi pergeseran makna oleh karna itu, mudik sekarang diartikan sebagai Udik atau kampung. Dengan kata tersebut, karena itu dikaitkan dengan kegiatan yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia menjelang lebaran pulang ke kampung halaman.

Hal itu sejajar pula dengan istilah “badui” asal Arab yang merupakan lawan dari kata hadhory. Sehingga dengan sederhana bisa diambil kesimpulan bahwa mudik, adalah kembali ke kampung halaman.

Banyak yang percaya, awal sejarah terbentuknya kata mudik berasal dari serapan kata Arab. Sebab jika di pecah, mudik terbagi menjadi “Mu” dan “dik” yang berasal dari kata Udik.

Baca Juga   Gatot Nurmantyo, Antara Partai & Elektabilitas

Di Indonesia sendiri, tradisi mudik lebaran ini baru berkembang sekitar tahun 1970-an. Namun sebenarnya, tradisi mudik sudah ada sejak kerajaan Majapahit.

Pada jaman dahulu kala, mudik yang dilakukan dengan tujuan pulang ke kampung untuk membersihkan makam para leluhur dan meminta keselamatan serta dilimpahkan rezeki.

Pada tahun 1970-an sebagai ibukota Indonesia, Jakarta memiliki perkembangan yang pesat. Penduduk di kampung biasanya berbondong-bondong datang ke kota untuk melamar pekerjaan.

Nah, mereka yang sudah bekerja di ibukota biasany mendapatkan libur panjang hanya saat menjelang hari raya Idul Fitri, oleh karena itu momentum inilah dimanfaatkan para perantau sebagai tradisi mudik.

Mudik menyediakan ruang bagi pelakunya untuk saling memaafkan berbagai kesalahan dan kekhilafan yang terjadi pada hari yang disucikan atau Idul Fitri. Bagi penduduk lain yang berdomisili di daerah, Jakarta menjadi salah satu kota tujuan untuk mengubah nasib. Lebih dari 80% orang datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.

Mudik adalah sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia dan belakangan menjadi ritual wajib. Bukan hanya pergerakan orang perorang dari kota ke desa yang berimbas pada tradisi tersebut. Namun di situ dengan jelas terlihat ada aspek ekonomi dan politiknya.

Aspek ekonominya tentu sangat jelas, di mana mereka yang melaksanakan mudik membawa uang dan uang itu banyak beredar di masyarakat pedesaan dan di sini masyarakat desa menikmati berkah mudik Idul Fitri.

Secara politik pun mudik bisa terjadi, di tengah pandemi yang belum usai, jika mudik nantinya berdampak pada lonjakan kasus covid-19, maka secara politik pemerintah akan disalahkan, karena dianggap gagal membendung penyebaran covid.

Namun jika Covid-nya tetap stabil atau tak mengalami lonjakan, maka secara politik pemerintah akan aman dari tudingan yang memberikan peluang bagi masyarakat untuk melaksanakan mudik.

Baca Juga   Hitam Putih Kontestasi Politik & Pemerintahan di Kabupaten Solok

Tahun ini, kegiatan mudik tentu menjadi pertaruhan bagi pemerintah. Sebab, setelah dua tahun keran mudik ini ditutup, maka diperkirakan sebanyak 85 juta orang akan terlibat dalam tradisi ini.

Jumlah tersebut tak hanya muncul dari setimasi pergerakan penduduk dari kota-kota besar saja, namun juga pergerakan dari kota kecil atau malah dari satu desa ke desa lainnya.***

** Dr. Ujang Komarudin, M.Si adalah Staff Khusus Ketua DPR RI, Dosen Tetap dan Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia serta Direktur Eksekutif Indonesia Political Review.