Yamaha E01 Bakal Dirilis Jadi NMax Listrik?

Avatar Of Teddy Chaniago
8. Yamaha | Buliran.com

PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) siap melakukan tes pasar untuk motor listrik E01. Rencananya, pada semester kedua 2022, akan hadir 20 unit roda dua ramah lingkungan dari Jepang ini untuk bisa dicoba oleh rekan-rekan media atau wartawan dan juga konsumen umum secara gratis.

Pengujian Yamah E01 ini akan dilakukan minimal satu tahun, untuk bisa diketahui kebiasaan masyarakat saat mengendarai motor listrik, serta ketahanan baterai untuk nantinya bisa diperbaiki dan diputuskan untuk dijual di Tanah Air atau tidak.

Dyonisius Beti, Executive Vice President & COO PT YIMM mengatakan, Yamaha E01 ini diharapkan bisa menjadi Yamaha NMax versi ramah lingkungan. Tidak heran, pasalnya, motor nol emisi dari pabrikan garpu tala ini memang memiliki tampilan yang mirip dengan skuter maxi yang cukup laris di pasaran tersebut.

“Jadi ini NMax versi listriknya, untuk itu kami tidak hanya ingin jual versi combusition engine, tapi juga NMax yang ramah lingkungan,” jelas Dyonisius Beti, di Jakarta belum lama ini.

Lanjutnya, diharapkan Yamaha E01 ini bisa ditermia dengan baik oleh masyarakat Indonesia. “Karena memang modelnya mirip seperti NMax yang sudah diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia, dan seluruh dunia,” tegasnya.

Sementara itu, terkait rencana produksi Yamaha E01 di Indonesia, Dyonisius sendiri mengatakan hingga saat ini belum ditentukan akan diproduksi di mana. Jika melihat sumber daya di Indonesia, terutama baterai memang cukup memungkinkan motor listrik asal Jepang ini dibuat secara lokal.

Produksi Lokal

“Di Jepang memang masih sangat mahal sekali, kalau bisa lokalisasi (Yamaha E01) kenapa tidak. Masalahnya, harus memenuhi spesifikasi Yamaha global. Kalau Hyundai atau Tesla bisa, kenapa tidak?” tambahnya.

Baca Juga   Perfoma Ciamik Honda Civic Si 2022

Dengan melakukan tes pasar juga akan ditentukan lebih lanjut, apa yang harus diperbaiki dari Yamaha E01 ini jika digunakan di Indonesia. Jika sudah begitu, untuk melakukan produksi lokal, tinggal bagaimana kerja sama dengan pabrikan baterai.

“Sebenarnya di Jepang ada konsorsium baterai, tapi itu untuk pasar Jepang. Belum untuk Indonesia. Tapi, kenapa tidak kalau di Indonesia bisa, kita terbuka. Harganya seperti apa, kalau jatuhnya lebih mahal kita beli saja, tapi pasti lebih murah kalau di Indonesia,” pungkasnya. (*/lec)