Poros Nasionalis-Islam Pada Duet Anies-AHY

Avatar Of Teddy Chaniago
1. Anies | Buliran.com

“PKS yang merasa ‘ditipu’ berkali-kali oleh Gerindra, dalam konteks koalisi kabinet maupun kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta, maka PKS hanya hanya punya pilihan tunggal, yakni bergabung dengan poros koalisi baru,” ujarnya.

Bahkan tak menutup kemungkinan PKB juga bisa bergabung jika potensi menangnya lebih besar. Kecuali jika PKB tetap ngotot memaksakan target Ketum PKB Cak Imin sebagai Capres 2024 mendatang.

“Jika simpul kekuatan Demokrat-Nasdem, PPP, PAN, dan PKS terbentuk, maka penguasaan suara wilayah dengan basis Islam konervatif maupun Islam moderat di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, hingga Sumatera, bisa terkonsolidasi dengan baik,” ucap dosen ilmu politik dan internasional studies Universitas Paramadina tersebut.

Sementara itu simpul-simpul kekuatan politik nasionalis di wilayah Jateng, Jawa Timur, Yogyakarta, termasuk Indonesia Tengah dan Indonesia Timur, bisa dipecah oleh kekuatan politik Demokrat dan Nasdem.

Terlebih lagi, ia menambahkan, jika mesin politik Anies-AHY bisa bekerja secara cerdas dan disiplin, maka efek ekor jas (coat tail effect) bagi partai-partai pendukungnya juga bisa lebih besar.

“Namun demikian, elektabilitas tokoh memang cenderung rentan terhadap isu dan dinamika politik yang berkembang. Jika tidak digarap dengan serius, simulasi kekuatan itu tidak ada artinya. Namun tim sukses mulai serius dan mengonsolidasikan jaringan dan kekuatannya, maka pasangan Anies-AHY yang diprediksi sangat kompetitif oleh sejumlah lembaga survei itu bisa menjelma menjadi poros kekuatan koalisi yang berdaya saing tinggi dalam Pilpres 2024 mendatang,” jelasnya.

Baca Juga   Senayan Ingatkan Pemerintah untuk Perhatikan Insentif Nakes