Menikmati Alam Burangrang Bersama PENA Depok

1.6 wawan.jpg | Buliran.com

BERCENGKRAMA dengan alam dalam bentuk kegiatan yang selalu dilakukan oleh komunitas , Penikmat Alam Indonesia (PENA) Kota Depok. Di tengah kesibukannya dalam melaksanakan rutinitas kesehariannya, personil personil PENA yang lebih akrab disapa Sahabat PENA ini, tetap berupaya hadir di tengah alam untuk menuntaskan dahaga petualangannya.

Kali ini, komunitas yang sebagian besar personilnya merupakan Aparatur Sipil Negara () di RSUD Kota Depok itu hadir menyapa keindahan dengan menyisir keasrian dengan berjuta pesona nan penuh magis yang ditawarkan .

Meski yang ikut mendaki hanya tujuh orang saja yang terdiri dari : Awan, Orie, Ahmad, Anggie, Titi, Ari dan Imel, namun hal itu tak mengurangi kegembiraan mereka saat kembali berada di pelukan alam bebas.

“Berada di alam bebas, selain menjadikan kita sebagai makhluk yang mensyukuri karunia ilahi, juga sebuah bentuk kecintaan kita kepada ciptaan Tuhan lainnya,” kata Awan.

1. burangrang | Buliran.com1.1 wawan.jpg | Buliran.com1.2 wawan.jpg | Buliran.com

Gunung Burangrang yang keberadaannya tak seberapa jauh dari Kota Depok, memang sengaja dipilih oleh PAI Depok karena waktu yang mereka miliki sangatlah terbatas dan mereka memanfaatkan waktu tersebut diantara kesibukan yang harus dilalui sehari-hari.

“Kami berangkat di akhir pekan, sehingga tak mengganggu pekerjaan. Selain itu, semua personil yang ikut tak ada yang cuti, sehingga lokasi yang dekat jelas menjadi sebuah pilihan,” imbuhnya.

Awan menjelaskan, Gunung Burangrang adalah sebuah mati yang hadir dari letusan besar Gunung Sunda pada zaman prasejarah. Dengan ketinggian 2.050 m di atas permukaan laut, meski tak terlalu tinggi namun tetap memberikan tantangan bagi para komunitas pecinta alam yang ingin menaklukkannya.

Sama seperti gunung-gunung lain di Jawa Barat, gunung ini pun nggak kalah menariknya buat didaki. Gunung Burangrang sendiri, menurut pria ramah yang saat ini menjabat sebagai Kasi Kemas dan pelayanan di Kelurahan , Kecamatan ini, bisa disusuri melalui tiga jalur pendakian. Ketiga jalur tersebut antara lain :

Baca Juga   Paguyuban Minang Sakato Lengkapi Syawal dengan Halal Bihalal

Jalur pendakian via Legok Haji

Basecamp pendakian via Legok Haji ini berada di Desa Nyalindung. Jalur ini dikenal sebagai yang tercepat namun juga terberat, karena jalur ini dipenuhi tanjakan terjal dan curam.

Untuk diketahui, kontur seperti ini tidak cocok buat para pendaki pemula. Namun, demikian ini adalah jalur dengan jarak terpendek untuk sampai ke puncak bagi mereka yang tidak punya banyak waktu.

Jalur pendakian via Kopassus

Disebut demikian karena jalur ini melewati medan yang jadi pusat pelatihan personil . Rute ini dibuat melewati Kawasan Latihan Hutan Kopassus di Situ Lembang.
Untuk melaluinya, pastikan dulu sudah minta izin ke pos jaga, biar pendakian lebih nyaman dan tidak berbarengan dengan waktu latihan anggota Kopassus.

Jalur pendakian via Pangheotan

Kalau jalur pendakian via Legok Haji menjadi yang tercepat, maka jalur via Pangheotan ini jadi yang paling lama. Meski begitu, pemandangan di jalur ini terkenal sangat indah.

Lokasinya berada di Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Purwakarta. Waktu tempuh buat menuju puncak Burangrang melalui jalur ini bisa mencapai 5 jam atau lebih, cukup lama karena sebelum mencapai puncak jalur ini bakal melewati beberapa punggungan lain menguras waktu dan tenaga.

Sebagai sebuah area , jelas Gunung Burangrang tak hanya menawarkan nuansa hijau saja. Di kawasan ini, menurut Awan juga terdapat dua terjun atau curug yang cukup terkenal.

 

1.4 wawan.jpg | Buliran.com1.5 wawan.jpg | Buliran.com1.12 wawan.jpg | Buliran.com

“Curug Cijalu yang berada pada ketinggian 1.300 mdpl dan juga Curug Putri yang ketinggiannya lebih rendah dari Curug Cijalu,” jelasnya.

Menurut masyarakat setempat, Curug Cijalu atau Curug Putri adalah area pertapaan orang-orang sakti dari tanah sunda. Sehingga kedua curug ini pun dianggap keramat. Bahkan, ada juga masyarakat yang meyakini kalau kedua curug tersebut menjadi tempat mandinya para peri dan bidadari kayangan.

Baca Juga   Akhir Bulan Ini, SAS Bandung Memilih Ketua Baru

Gunung Burangrang lanjut Awan, secara administratif berada di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta. Tingginya yang menjulang, membuat gunung ini bisa dilihat dari berbagai penjuru.

Bahkan dari Kota Bandung, Gunung Burangrang cukup jelas penampakannya, tentu saja dengan catatan kondisi cuaca sedang mendukung. Letaknya berdekatan dengan Gunung Tangkubanparahu.

Sebagian wilayah Gunung Burangrang, terutama sisi bagian barat yang berada di wilayah Purwakarta, merupakan kawasan cagar alam. Pendakian ke puncak gunung ini sebaiknya dilakukan dengan memilih jalur yang sudah tersedia di luar kawasan cagar alam.

Awan menyebutkan, ketinggian Gunung Burangrang menurut peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) lembar Cimahi, yang diterbitkan olah Badan Informasi Geospasial (BIG) edisi I-2001 skala 1:25.000, adalah 2.064 meter di atas permukaan laut (Mdpl), tetapi di kalangan pendaki lebih dikenal ketinggiannya 2.050 Mdpl.

Asal Nama dan Sejarah

Nama Gunung Burangrang sudah dikenal sejak lama, bahkan sebelum bangsa datang dan menduduki Nusantara. Namanya bisa ditemukan di dalam naskah Bujangga Manik.

Seperti diketahui, Bujangga Manik adalah bangsawan muda dari Kerajaan Pakuan yang dua kali melakukan perjalanan mengelilingi Pulau Jawa sekitar tahun 1500-an Masehi. Catatan perjalanannya tersimpan dari tahun 1627 sampai sekarang dengan kode naskah MS. Jav.b.3 (R), di perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford, Inggris.

Dalam catatannya, Bujangga Manik menulis sebagai berikut:

Itu Tangkuban Parahu,
tanggeran na Gunung Wangi.
Itu ta gunung Marucung, ta(ng)geran na Sri Manggala.
Itu ta bukit Burangrang,
ta(ng)eran na Saung Agung.

Dalam naskah ini disebutkan bahwa di kaki Gunung Burangrang pernah ada tanggeran atau tapal batas sebuah kerajaan, yaitu kerajaan Saung Agung.

Menurut para ahli sejarah, kerajaan Saung Agung berlokasi di daerah Purwakarta bagian timur, dan sebagian wilayahnya berada di lereng Gunung Burangrang, lebih tepatnya di daerah Wanayasa sekarang. Kekalahan Saung Agung dari Kesultanan Cirebon menjadi penyebab runtuhnya kerajaan ini pada akhir tahun 1600-an, sehingga namanya diganti menjadi Wanayasa.

Baca Juga   Gebyar Vaksinasi FKMB Sukses

Mengenai asal nama Gunung Burangrang sendiri, terdapat beberapa versi. Ada yang meyakini bahwa nama Burangrang diambil dari kata “jarang” atau “carang”. Ada pun yang dimaksud dengan “jarang” atau “carang” di sini adalah bentuk lembahan atau jurang-jurangnya yang jarang atau carang dalam arti renggang atau tidak rapat satu sama lainnya.

Versi lain yang lebih populer, nama Gunung Burangrang berasal dari kata “rangrang” atau ranting-ranting pohon. Konon, pada saat Sangkuriang membuat perahu dari kayu, ranting-ranting atau “rangrang”-nya menjelma menjadi sebuah gunung di sebelah barat Gunung Tangkubanparahu. Gunung inilah yang kemudian dinamakan Gunung Burangrang.

“Nah, tunggu apa lagi. Jika kami para pegawai dengan waktu yang sangat sempit masih bisa bercengerama dengan pesona keindahan alam Gunung Burangrang, kapan kalian menyusul,” kata Awan menantang para pecinta alam lainnya datang ke Burangrang.***