Harap waspada! Minyak Goreng Curah Dikemas Ulang Jadi Kemasan

Minyak Goreng Curah Dikemas Ulang Jadi Kemasan
Minyak Goreng Curah Dikemas Ulang Jadi Kemasan

, JAKARTA – Beberapa waktu lalu, pemerintah telah memutuskan hanya memberikan subsidi curah untuk masyarakat dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp14.000 per liter. Sementara untuk kemasan ditentukan dengan mekanisme .

Kebijakan subsidi tersebut berpotensi memicu peredaran minyak curah dikemas ulang jadi jadi dan dijual dengan harga mahal.

Apalagi, belakangan muncul sejumlah merek minyak goreng yang disinyalir merupakan merek baru dan telah diperjual belikan di ritel modern yang dibanderol Rp25.500 per liter.

Munculnya merek baru minyak goreng kemasan tersebut usai pemerintah kembali menerbitkan aturan HET untuk minyak goreng curah sebesar Rp14.000 per liter dan melepas harga minyak goreng kemasan pada mekanisme pasar.

Namun, jika dilihat dari warna minyak goreng dari merek baru tersebut tidak bening seperti kemasan premium, melainkan lebih pekat warnanya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga mengungkapkan, sebenarnya sangat mudah untuk mengetahui produk minyak goreng yang layak jual apabila memenuhi 3 syarat berikut.

“Minta dilihat saja informasi produk di labelnya, apakah ini produk yang eligible,” kata Sahat kepada wartawan, Senin (21/3).

Pertama, biasanya tertera jelas nama perusahaan yang memproduksinya. Kedua, terdapat tanda Standar Nasional Indonesia (SNI) dan izin edar . Ketiga, terdapat barcode untuk mengetahui kapan produk minyak goreng tersebut diproduksi.

“Kalau 1 sampai dengan 3 itu lengkap, maka produk ini adalah legal untuk diperdagangkan,” pungkasnya.

Minyak Goreng Curah Opolosan
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyatakan, kebijakan subsidi minyak goreng curah berpotensi memicu peredaran minyak oplosan oleh oknum nakal.

Baca Juga   Selama Pandemi, Kekerasan Seksual Meningkat

Mengingat adanya, peningkatan penggunaan minyak goreng curah oleh masyarakat maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah () akibat disparitas harga yang cukup jauh antara minyak goreng curah dan kemasan. Saat ini, harga minyak kemasan dibanderol Rp24.000 hingga Rp27.000 per liter.

Selain disparitas harga, potensi beredarnya minyak curah oplosan akibat tidak adanya barcode hingga kode produksi seperti yang tertera pada minyak goreng kemasan. Sehingga, tidak ada jaminan mutu yang diperoleh konsumen rumah tangga bawah.

“Karena yang namanya minyak goreng curah nggak ada barcodenya, tidak ada kode produksi. Sehingga kemungkinan dioplos dengan minyak jelantah bisa terjadi,” ujar Bhima dikutip dari Merdeka.com, Jakarta, Sabtu (19/3).

Oleh karena itu, Bhima mendesak pemerintah untuk memperketat distribusi terhadap minyak goreng subsidi. Selain itu, tegas juga harus disiapkan bagi oknum nakal pengoplos minyak curah subsidi dengan jelantah.

“Tapi, minyak goreng curah ini susah sekali diawasi subsidinya. Moral hazard nya terlalu besar,” tutupnya. (*/mdk)