Gerilyawan Amerika Latin di Tengah Modernisasi

5. tuyuti battle | Buliran.com

merupakan kelompok yang menentang dan ingin menggulingkan sebuah rezim dalam negeri ketika dirasa jalur peperangan merupakan satu-satunya jalan. Hal ini disebabkan maraknya perbedaan pandangan, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial maupun .

Namun, pemberontak umumnya melakukan peperangan secara sembunyi-sembunyi atau yang kerap dijuluki dengan gerilya. Munculnya peperangan gerilya ini marak terjadi di seluruh penjuru dunia ketika terjadinya Perang Dingin antara Uni Soviet dan Serikat.

Salah satu kawasan yang terdampak besar akibat peperangan ideologi tersebut adalah . Pasalnya, kelompok gerilya beberapa negara Amerika Latin itu masih terus melakukan aksinya sampai saat ini, meskipun ideologi komunisme tak lagi populer lantaran dianggap gagal.

di Amerika Latin yang berlangsung puluhan tahun telah mengakibatkan dampak besar, terutama bagi kestabilan suatu negara. Berikut beberapa kelompok gerilya di Amerika Latin yang masih beroperasi sampai saat ini.

1. FARC – Kolombia

5.2 FARC | Buliran.com

Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia (FARC) merupakan salah satu pemberontak gerilya yang berasal dari Kolombia. Kelompok ini disebut sebagai yang terbesar di Kolombia dengan sekitar 20 ribu pasukan yang terdiri dari 6.000-7.000 pasukan aktif dan 8.500 warga sipil yang mendukung aksinya, dilansir BBC.

Kelompok gerilya yang berpandangan kiri, Marxist-Leninisme ini sudah didirikan pada tahun 1964, di tengah panasnya Perang Dingin. Mulanya, kelompok ini menjadi pasukan di bawah Partai Komunis Kolombia (PCC), tapi organisasi militer itu memisahkan diri pada 1993.

Sebelum terbentuknya FARC, Kolombia juga dirundung Perang Sipil selama 10 tahun yang dijuluki dengan La Violencia. mengerikan itu mengakibatkan sekitar 200 ribu-300 ribu orang tewas dan dipicu oleh pembunuhan Jorge Eliecer Gaitan, pemimpin Partai Liberal Kolombia.

Dikutip Insight Crime, FARC yang menjadi salah satu pemberontak tertua di Amerika Latin sudah terlibat peperangan melawan Pemerintah Kolombia. Kelompok itu mendapatkan pendanaan untuk perang dari hasil pemerasan, penarikan pajak bagi pemilik lahan, dan terlibat perdagangan narkoba.

Baca Juga   Wow! Utang Negara Paman Sam Capai Rp 404.000 T

Pada Agustus 2016, Pemerintah Kolombia dan FARC sudah memutuskan untuk berdamai dan resmi mengakhiri perang yang berlangsung selam 52 tahun. Meski begitu, terdapat pembelot FARC yang menolak berdamai dan masih melangsungkan aksinya sampai sekarang.

2. ELN – Kolombia

5.2 EPL Kolombia | Buliran.com

Ejército de Liberación Nacional (ELN) merupakan kelompok gerilya sayap kiri terbesar kedua di Kolombia setelah FARC. Sama seperti FARC, kelompok pemberontak sayap kiri ini sudah berdiri sejak Juli 1964 menyusul peristiwa La Violencia yang merenggut ribuan nyawa.

Namun, pemberontak ini didirikan dengan kombinasi aliran Marxist-Leninisme dan teori agama Katolik. Maka dari itu, kelompok ini melakukan rekrutmen anggota pertamanya di 1960-an lewat bantuan gereja dan beberapa di antara anggotanya merupakan pastor.

Sementara itu, ELN dikenal sebagai salah satu kelompok pemberontak paling brutal dan berbahaya di Kolombia. Bahkan, setelah perjanjian perdamaian antara FARC dan Pemerintah Kolombia, praktis kelompok ini dinobatkan sebagai pemberontak terbesar di Kolombia, dengan sekitar 3.000 pasukan.

Salah satu teror paling mematikan yang pernah dilakukan ELN adalah ketika kelompok ini membom Akademi Kepolisian di Bogota pada Januari 2019. Peristiwa memilukan itu telah mengakibatkan 21 calon tewas, dikutip dari Insight Crime.

3. EPL – Kolombia

5.3 EPL Kolombia | Buliran.com

Ejército Popular de Liberación (EPL) menjadi kelompok pemberontak yang terbentuk pada 1967 di bawah Partai Komunis Kolombia (PCC). Pemberontak ini diketahui memiliki basis utama di Catatumbo yang terletak di perbatasan Kolombia-Venezuela.

Pembentukan EPL didasari dari kesuksesan teori milik Mao Zedong yang dinamai ‘Three Worlds Theory'. Teori itu menyebut negara berkembang seharusnya beraliansi dengan negara dunia kedua untuk mengalahkan hegemoni AS dan Uni Soviet.

Pemberontak sayap kiri yang dijuluki dengan Los Pelusos ini menjadi salah satu pemain besar dalam penyelundupan narkoba dan senjata di Kolombia. Namun, belakangan ini EPL mengalami penurunan lantaran mengalami kekalahan melawan militer Kolombia.

4. EPP – Paraguay

5.4 EPP Paraguay | Buliran.com

Beralih ke Paraguay, terdapat kelompok gerilya Ejército del Pueblo Paraguayo (EPP) yang termasuk salah satu pemberontak sayap kiri di Amerika Latin. Kelompok yang berbasis di Departemen Concepcion yang berbatasan dengan Brasil ini sudah berdiri sejak 1 Maret 2008 silam.

Baca Juga   72 ribu Warga Kongo Dipaksa Mengungsi

EPP terbentuk akibat tingginya ketimpangan di Paraguay lantaran mayoritas kepemilikan lahan dimiliki oleh kalangan elite. Sedangkan kelompok ini diketahui mendapatkan pendanaan untuk berperang dari aksi , pemerasan dan diduga juga terlibat dalam penyelundupan narkoba.

Pemberontak sayap kiri ini sudah melakukan teror dan serangan terutama kepada aparat kepolisian. Selain itu, mereka kerap melakukan penculikan terhadap pemilik lahan dan yang paling terkenal adalah aksi penculikan kepada eks Wapres Oscar Denis Sánchez pada September 2020 lalu.

5. Sendero Luminoso – Peru

5.5 Sendero Luminoso Peru | Buliran.com

Kemudian ada kelompok Sendero Luminoso atau Shining Path yang memiliki basis utama di wilayah Valle de los Ríos Apurímac, Ene y Mantaro (VRAEM), Peru. Pemberontak sayap kiri beraliran Maois itu didirikan oleh seorang akademisi bernama Abimael Guzman pada akhir 1960-an, dilansir Britannica.

Pada 1980-an, kelompok gerilya sayap kiri itu telah menciptakan teror dan kekacauan hebat di Peru, terutama di area pedesaan selama bertahun-tahun. Pasalnya, Sendero Luminoso tidak segan-segan membunuh siapapun yang dianggapnya sebagai musuhnya, meskipun ia merupakan warga sipil. Bahkan, kelompok itu bertanggung jawab atas pembunuhan massal di Santiago de Lucanamarca yang menewaskan 69 orang.

Pada 1988, Guzman mulai memfokuskan aksinya untuk melangsungkan teror di area perkotaan, termasuk ibu kota Lima. Serangan terbesarnya terjadi di Miraflores, Lima pada 1992 yang mengakibatkan tewasnya 25 orang dan 155 terluka akibat bom truk.

Tak lama dari serangan itu, Guzman akhirnya tertangkap dan mengakibatkan runtuhnya organisasi Sendero Luminoso. Hal ini mengakhiri perang sipil di Peru yang telah mengakibatkan tewasnya 70 ribu orang.

Saat ini, kelompok Sendero Luminoso diketahui masih aktif di wilayah VRAEM dan disebut terlibat dalam pertanian koka dan penyelundupan kokain. Pada 2021 lalu, Sendero Luminoso juga kembali melakukan serangan dengan membunuh 18 warga sipil.

6. EPR – Meksiko

5.6 EPR Meksiko | Buliran.com

Ejército Popular Revolucionario (EPR) adalah salah satu kelompok pemberontak sayap kiri yang berasal dari Meksiko Selatan. Kelompok ini berdiri sejak 1994, setelah bergabungnya Partido Revolucionario Obrero Clandestino Unión del Pueblo (PROCUP) dan Partido de los Pobres.

Baca Juga   Sebuah Desa Dibakar Junta Militer Myanmar

Ideologi yang dianut EPR adalah komunisme yang beraliran Marxist-Leninisme dan bertujuan untuk mendirikan komunisme di Meksiko, terutama bagi masyarakat petani dan pribumi. EPR diketahui melangsungkan aksinya dengan menyerang polisi dan militer di negara bagian Guerrero, Oaxaca, dan Chiapas.

Selain menyerang aparat keamanan, EPR juga kerap melakukan serangan kepada pipa gas dan minyak di Veracruz pada 2007. Kelompok ini juga disebut tengah memerangi kartel narkoba Guerreros Unidos setelah kasus hilangnya 43 mahasiswa di Ayotzinapa.

7. EZLN – Meksiko

5.7 EZLN Meksiko | Buliran.com

Terakhir ada Ejército Zapatista de Liberación Nacional (EZLN) yang merupakan kelompok gerilya yang didirikan sejak 1983 di Chiapas, Meksiko. Kelompok ini dibentuk atas latar belakang melindungi masyarakat pribumi dan menolak kebijakan pemerintah yang dipimpin PRI (Partido Revolucionario Institucional) selama puluhan tahun.

EZLN diketahui melangsungkan aksi pertamanya sejak 1 Januari 1994, setelah Meksiko menandatangani perjanjian NAFTA dengan AS dan Kanada. Mereka menduduki San Cristóbal di Chiapas dan menyulut adanya pemberontakan bagi kalangan masyarakat pribumi di Meksiko.

Setelah beberapa tahun berjuang melalui jalan peperangan, tepat pada tahun 1999, Zapatistas mulai mengubah pendekatan protesnya lewat jalur damai. Sampai saat ini, konfrontasi antara militer Meksiko dengan EZLN sudah tidak pernah terjadi.

Dilansir , Zapatistas mengaku telah menduduki lebih dari 50 persen wilayah di negara bagian yang berbatasan langsung dengan Guatemala itu. Bahkan, mereka diketahui telah membangun sistem pendidikan, kesehatan, hukum, keamanan, dan pemerintahan sendiri yang terpisah dari Meksiko.

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa kelompok gerilya di Amerika Latin terbentuk akibat timbulnya ketidakadilan dan ketimpangan yang dialami oleh masyarakat pribumi atau masyarakat tanpa privilege lainnya. Selain itu, munculnya kelompok pemberontak mayoritas didorong oleh naiknya pemimpin otoriter. Walaupun, gaya kepemimpinan pemberontak juga tak jauh dari sifat otoriter.***