Beha China “Banjiri” Tanah Abang

Avatar Of Teddy Chaniago
3. Beha | Buliran.com

Sementara itu, pedagang lainnya dari Blok A pasar Tanah Abang yakni Adi Niko juga mengungkapkan bahwa seluruh produk yang dijualnya merupakan impor dari China. Ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun, apalagi orang tuanya sudah berbisnis ini selama 30 tahun. Produk yang dijual khususnya pakaian atas wanita.

“Ambil dari Gouangzhou, China. Sejak dulu ambil dari sana karena sudah ada link juga. Bahannya macam-macam, ada poliester, katun, saya juga kirim lagi ke banyak kota karena udah langganan, ada Surabaya, Medan, barusan juga ke Lombok,” sebut pemilik Acong Fashion yang berlokasi di Blok A lt LG los F no 51 ini.

Banyaknya pedagang yang mengimpor produk garmen impor membuat produk lokal kerap tergempur. Selain China, Bangladesh merupakan negara pemasok garmen terbesar.

Berdasarkan data dari Trademap, ekspor produk tekstil (garmen) dengan kode HS61-52 Bangladesh menempati urutan kedua di bawah China, nilainya mencapai US$ 36,13 miliar, sementara Indonesia hanya 1/6nya, yakni US$6,98 miliar.

“Eksportir pakaian jadi dunia itu nomor satu China, nomor dua Bangladesh, dan nomor 3 Vietnam. Bea masuk dari China nol persen, dan saat ini dari Bangladesh 20-25% tergantung kode HS,” kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmaja kepada CNBC Indonesia, beberapa waktu lalu. (*/hoi/cic)

 

Baca Juga   Indonesia Mulai Ekspor Pesepakbola ke Luar Negeri