Sensasi Berselancar di Ombak Bono

Avatar Of Teddy Chaniago
10. Bono | Buliran.com

MELIHAT ombak besar bergulung-gulung dari bibir pantai sudah terlalu mainstream. Tapi bagaimana kalau kita melihat gulungan ombak besar di sungai? Fenomena alam yang langka dan menakjubkan ini bisa kita temui di Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.

Penjelasan ilmiah terjadinya ombak besar atau bono, sebutan masyarakat setempat, yang bergulung-gulung di sungai tersebut karena adanya pertemuan arus di mulut muara, yaitu dari Sungai Kampar, Selat Malaka, dan Laut China Selatan karena air pasang.

Ombak Bono tidak kalah besar dengan ombak di lautan, bisa mencapai ketinggian 4-5 meter dan bergerak dari muara di Desa Pulau Muda menuju Desa Teluk Meranti dan Tanjung Menangor. Jarak yang ditempuh Bono sekitar 50-60 kilometer menyisir sepanjangn daerah aliran sungai (DAS) dengan kecepatan rata-rata 40 kilometer/jam. Semakin menjauhi muara ombak semakin kecil maksimal 1 meter.

Ombak Bono mengalir berlawan dengan arus sungai dan panjang gelombang bisa mencapai 200 meter – 2 kilometer mengikuti lebar sungai. Sungai Kampar sendiri memiliki panjang sekitar 413 kilometer dengang hulu di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat dan bermuara di Selat Malaka.

Fenomena alam yang menakjubkan tersebut dimanfaatkan oleh warga Desa Teluk Meranti untuk menjadikannya obyek wisata alam yang menguji adrenalin. Ombak Bono ini sudah sejak 2013 menjadi ikon pariwisata Riau yang membidik wisatawan dalam maupun luar negeri yang memiliki minta surfing.

Banyak Surfer dunia yang sudah menjajal keganasan dan keganasan Ombak Bono Sungai Kampar ini. Semua menyatakan terpukau dengan Ombak Bono, karena keunikannya bisa berselancar di sungai, setelah puluhan tahun tahun melakukan surfing di laut.

Bagi wisatawan yang tidak memiliki hobi surfing jangan berkecil hati dulu ya, bukan berarti tak bisa menikmati deru Ombak Bono. Kita bisa melihatnya dari ketinggian bukit yang berada di Desa Teluk Meranti dan di Desa Pulau Muda.

Baca Juga   Buntu Liarra, “Negeri di Atas Awan” dari Mamasa

Kalau ingin menikmati fenomena alam keren ini, datanglah pada Oktober hingga Desember ketika puncak musim hujan, saat debit air Sungai Kampar sedang tinggi. Atau pada Februari hingga Maret, pada saat bulan purnama saat laut sedang pasang.***