Telaah  

Duet Politisi-Birokrasi Paling Cocok untuk Depok ke Depan

2. uwoh.jpg | Buliran.com

oleh : H
Penulis Seorang Pengamat di

WALAUPUN pasangan M Idris dan Imam Budi Hartono baru setahun memimpin Kota Depok, namun utak-atik calon pemimpin Kota Depok selanjutnya telah ramai diperbincangkan. Apalagi, Komisi Pemilihan Umum () pusat telah mengisyaratkan akan menggelar Pemilu pada 14 Februari 2024 mendatang.

Jika memang pelaksanaannya sesuai dengan yang direncanakan tersebut, artinya pada saat itu juga akan dilaksanakan Pemilihan serentak yang tentunya Kota Depok berada didalamnya.

Artinya, untuk menuju Pilkada Kota Depok 2024 (jika jadwal tak berubah-red), tentunya waktu yang tersedia hanya tersisa 24 bulan saja. Ini waktu yang sangat pendek jika kita berbicara tentang sebuah pesta demokrasi.

Nah, kembali ke Kota Depok, dalam usia yang baru 23 tahun dengan menghadirkan tiga orang kepala daerah, dimulai dari Badrul Kamal ( 15 Maret 200 – 15 Maret 2005), Nur Mahmudi Ismail (26 Januari 2006 – 26 Januari 2011) dan (26 Januari 2011 -26 Januari 2016) serta Mohammad Idris (17 Februari 2016 – 17 Februari 2021) dan (26 Februari 2021 – sekarang), tentunya publik telah bisa menilai figur dari latar belakang mana yang cocok menjadi pemimpin Kota Belimbing ke depan.

Saat ini sejumlah nama telah mencuat ke permukaan, baik mereka yang telah pernah berada di syaf terdepan sebutlah nama Imam Budi Hartono (wakil walikota Depok saat ini dan Pradi Supriatna (wakil walikota periode sebelumnya), juga mencuat nama baru namun lama dalam panggung politik Kota Depok seperti nama Suhaimi, Hasbullah Rahmad, Qonita. Dan yang terbaru adalah sesosok nama yang cukup menggelitik dan banyak disebut sebagai putera mahkota yaitu Supian Suri yang saat ini dipercaya sebagai Sekretaris Daerah Kota Depok.

Baca Juga   Berharap Simpati Publik dengan Blusukan di Momentum Lebaran

Menilik nama yang telah ada atau mungkin yang muncul di injuri time nantinya, tentu menarik untuk menarik garis lurus tentang siapa yang paling pas untuk menjadi nahkoda baru Kota Depok mendatang.

Meskipun pendapat dari banyak pihak bisa saja benar, tentunya kita harus sepakat kalau pendapat yang maha benar adalah milik Allah semata. Namun setidaknya, tentu tidak pula haram hukumnya untuk mengutak-atik atau memprediksi calon D1 dan D2 mendatang.

Dari sejumlah nama yang muncul, tentunya publik telah tahu track record masing-masing. Baik di institusi yang menaungi mereka ataupun jejak rekam mereka di tengah masyarakat.

Namun setidaknya, belajar dari tiga walikota Depok yang telah ada, tentunya menarik untuk disimak. Kombinasi apa yang paling pas meski bukan pula paling benar untuk membawa Kota Depok menjadi lebih baik kedepannya.

Kita urai satu persatu, politisi. Mereka adalah orang-orang yang berada langsung di tengah masyarakat karena terkait dengan program partai ataupun program pencitraan mereka untuk bisa mendapat tempat di mata publi.

Politisi memiliki jejaring yang sangat kuat di masyarakat, selain itu politisi juga orang yang paling mengetahui kepentingan publik karena banyaknya waktu mereka yang tercurah untuk masyarakat yang mereka wakili.

, rasanya tak ada yang menyangkal kalau mereka yang berasal dari kelembagaan ini juga dekat dengan masyarakat. Berbagai program pembangunan, institusi inilah yang mengantar langsung ke masyarakat melalui instrumen pemerintahan baik di tingkat kecamatan hingga ke kelurahan.

Sehingga kredibilitas seorang birokrasi bisa dengan sangat gampang diuraikan oleh publik secara nyata tanpa ada yang dikurangi.

Pengusaha, nah inilah yang selalu mengusik perhatian. Mereka selalu datang dengan modal besar dengan istilah tanpa seri. Dengan kemampuan finansial ini, mereka dengan mudah mendapatkan apa yang mereka harapkan. Apalagi, di tengah kelesuan dan jeritan ekonomi yang selalu nyaring terdengar, tentunya keberadaan kalangan pengusaha sangat diharapkan.

Baca Juga   Hitam Putih Kontestasi Politik & Pemerintahan di Kabupaten Solok

Milenial, sejak era pemerintahan Presiden , kalangan milenial dengan segala keterbatasannya, dianggap sebagai pendobrak perubahan. Apalagi, kalangan ini sangat dekat dengan yang namanya teknologi. Sehingga pemerintah selalu mendengungkan kalau milenial adalah agen perubahan.

Nah, setelah mengurai empat kategori di atas, tentunya kita bisa mengerucutkan pilihan pada siapa Depok ini dititipkan ke depannya.

Namun jika berbicara secara utuh, tentunya calon pemimpin yang harus diberikan amanah adalah mereka yang berpengalaman, punya jiwa kepemimpinan dan tentunya dekat dan mengerti kepentingan rakyat.

Siapa dia, menurut saya figur politisi harus dikedepankan dan disandingkan dengan birokrasi. Kenapa pilihan saya mengerucut kepada kategori ini, karena keduanya bisa berbagi tugas dengan sangat jelas.

Politisi sangat paham harapan dan keinginan masyarakat luas. Sementara birokrasi adalah mereka yang sangat paham dan mengerti akan sistem birokrasi pemerintahan sehingga memudahkan mereka berinteraksi dalam menyusun kerangka pemerintahan dengan tujuan akhirnya adalah untuk kemajuan.

Kenapa kalangan pengusaha dan milenial belum masuk dalam figur yang bisa memimpin Kota Depok, bukan karena mereka tidak bisa menjadi pemimpin. Namun harus diingat, Kota Depok adalah sebuah daerah dengan usia yang masih sangat muda. Sehingga untuk mengejar ketertinggalannya, dibutuhkan pemimpin atau leader yang berpengalaman dengan jaringan yang kuat. ***