Budaya  

Kaya dengan Motif Jadikan Batik Depok Lebih Unik

Avatar Of Teddy Chaniago
1. Ratna S Wulandari.jpg | Buliran.com

BuliranNews, DEPOK – Kemunculan Batik Jatijajar dengan motif kimpul dan jati jajar belakangan ini, bukanlah sesuatu yang aneh atau kebetulan belaka. Sebab, Kota Belimbing ini sejatinya memang memiliki potensi untuk besar dengan beragam model dan motif batiknya.

1. Motif.jpg | Buliran.com1.1 Motif.jpg | Buliran.com1.2 Motif.jpg | Buliran.com1.3 Motif.jpg | Buliran.com1.4 Motif.jpg | Buliran.com3.4 Lily.jpg | Buliran.com

Ratna S Wulandari, seorang pelaku usaha Batik Depok dari Ratna Batik and Craft menyebutkan, yang dibutuhkan adalah bagaimana menjadikan batik menjadi sebuah produk usaha yang bisa menggairahkan perekonomian masyarakat.

 

“Dalam hal ini, kita jangan hanya terjebak dalam hal produksi dan pengayaan motif semata, namun juga harus memikirkan bagaimana cara menjual produk itu sendiri. Dalam hal ini, tentunya kerjasama dengan pemerintah dan pihak ketiga sangat diharapkan,” jelas Bunda Ratna.

1. Motif Batik Tulis Gong Sibolong.jpg | Buliran.com
Motif Batik Tulis Gong Si Bolong

Ratna yang sebelumnya telah menghadirkan Batik Depok dengan motif Gong Sibolong dan motif Benggol, yakin seyakin yakinnya, kalau Batik Depok akan bisa besar dan berkembang asalkan semua stakeholder mau bahu membahu dalam mengembangkannya.

“Harus diakui, Batik Depok itu unik karena kaya akan motif. Banyak hal yang bisa dijadikan motif, baik itu budaya. kultur, kearifan lokal maupun alam,” imbuhnya.

1. Motif Batik Benggol 1858.Jpg | Buliran.com
Motif Batik Benggol 1858

Sebagai penggagas kehadiran Kelurahan Jatijajar dalam gelaran “Semesta Berkarya” di Depok Mall kemarin, menurutnya menghadirkan Kelurahan Jatijajar di Semesta Berkarya merupakan sebuah cara yang dilakukannya untuk “menjual” potensi Batik Jatijajar tersebut ke publik Kota Depok.

Disinggung tentang pemasaran batik produk Kota Depok di wilayah Kota Depok sendiri, menurut Ratna masih terbuka lebar. Namun itu harus disesuaikan dengan klaster perekonomian masyarakat yang lebih didominasi oleh golongan menengah ke bawah.

1. Batik Motif Golok Dan Canting Golok.jpg | Buliran.com
Motif Golok Dan Canting Golok

“Untuk batik dengan kualitas premium, tentu agak sulit. Namun jika disesuaikan dengan perekonomian mereka, maka segmen menengah ke bawah adalah yang paling pas untuk dibidik dan tentunya juga harus sesuai dengan selera pasart,” ucapnya.

Baca Juga   Hebat! Ini Tokoh Penyandang Gelar Sir dari Kerajaan Inggris, Salah Satunya Urang Awak

Terkait dengan warna yang cocok untuk Batik Depok, Ratna dalam beberapa kali survey yang dilakukannya menyebutkan warna terang lebih terang untuk batik lokal produk Depok.

1. Motif Batik Tugu Sawangan Dan Gong Si Bolong.jpg | Buliran.com
Motif Tugu Sawangan Dan Gong Si Bolong

“Kota Depok berada di antara perlintasan Budaya Betawi (Jakarta) dan budaya Sunda (Bogor), karena itu warna terang akan lebih pas. Kalau warna alam, menurut saya kurang diminati,” kata anggota IWAPI Kota Depok ini menjelaskan.

Sebagai pelaku usaha dan pegiat batik di Kota Depok, wanita yang lahir dari kultur Solo dan Madura ini mengatakan, agar batik lokal Depok dicintai masyarakat, maka motif dan warnanya harus mengacu kepada selera pasar.

1. Motif Batik Gong Si Bolong Dan Penari Topeng Cisalak.jpg | Buliran.com
Motif Gong Si Bolong Dan Penari Topeng Cisalak

Satu hal lagi yang disebutkan Ratna S Wulandari adalah, dalam menghadirkan motif untuk Batik Depok, haruslah sarat dengan filosofi dan budaya yang ada di Kota Depok sendiri.

1. Motif Batik Gong Si Bolong Sulur Melati.jpg | Buliran.com
Motif Batik Gong Si Bolong Sulur Melati

Sebagai pelaku usaha dan penggagas motif batik, Ratna cukup dikenal dengan beberapa motif diantaranya : golok dan canting golok, motif benggol 1858, motif gong si bolong, penari topeng cisalak, motif gong si bolong sulur melati, motif tugu sawangan dan tentu saja motif kimpul dan jati jajar yang saat ini dikembangkannya. (ted)