Telaah  

Jangan Tabukan Pendidikan Seks untuk Anak Usia Dini

Avatar Of Teddy Chaniago
1. Nal.jpg | Buliran.com

Oleh : Fitri Rahma Sari
Mahasiswi STIKes Mercubaktijaya Padang

BANYAK orangtua belakangan kaget mengetahui tingginya kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Dan lebih kaget lagi karena pelakunya seperti diberitakan media massa, adalah orang terdekat; ada oknum guru di pesantren, paman, dan juga bapak kandungnya sendiri. Tak terbayangkan dampak psikologis yang akan dialami si korban jiga yang mendapat penanganan oleh orang yang tepat.

Untuk mencegah kekerasan seksual dan pemerkosaan terhadap anak tidak terjadi lagi, maka menjadi penting bagaimana perlunya pendidikan seks diajarkan kepada anak secara dini. Jika selama ini tabu bagi orangtua atau guru mengajarkan pendidikan seks kepada anak-anak, maka ke depan diharapkan cara berpikir demikian diubah. Orangtua harus memberikan pendidikan seks kepada anak secara dini.

Tanpa adanya pemahaman mengenai pendidikan seksual, anak akan sulit untuk melawan perlakuan menyimpang orang-orang terdekat dengan si anak. Sayangnya, masih banyak orang tua dan masyarakat yang merasa tabu dan apatis untuk membicarakan seksualitas kepada anak.

Padahal, mengajarkan pendidikan seks kepada anak sejak dini bisa menjadi imun yang akan membantu anak untuk membentengi diri dari risiko kekerasan maupun pelecehan seksual di kemudian hari. Apalagi dengan semakin transparannya berbagai informasi yang bisa diakses lewat internet, sangat memungkinkan bagi sebagian besar anak dan remaja memanfaatkannya sebagai media penolong dalam memenuhi rasa keingintahuannya mengenai seks.

1.3 Nal | Buliran.com

Berangkat dari pemikiran tersebut, Ikatan Alumni STIKes Mercubaktijaya Padang mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat tentang pentingnya pendidikan seks pada anak sejak dini, di Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau Panti Asuhan terpadu Al-Falah, Padang, pada 9 Desember 2021 lalu. Ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan Alumni STIKes Mercubaktijaya Padang.

Kegiatan atau gerakan ini bertujuan untuk mengedukasi para santri dalam pentingnya pendidikan seks pada anak sejak dini, karna yang kita ketahui sekarang sangat marak sekali berita yang beredar diluaran sana mengenai pelecehan seksual maupun kekeraan seksual di bawah umur.

Kegiatan pengabdian pada masyarakat dengan tema pendidikan seks untuk anak usia dini ini dihadiri oleh santri-santri yang rentang usia 12-15 tahun yang bisa dikatakan remaja. Kegiatan ini juga memberikan informasi dan materi tentang mengenal diri sendiri, mengenai reproduksi dan juga menjelaskan cara menjaga diri agar terhindar dari pelecehan seksual maupun kekerasan seksual, yang dipaparkan oleh dosen dari STIKes Mercubaktijaya Padang yaitu Ns. Rizka Ausrianti, M. Kep, Ns. Rifka Andayani Putri, S. Kep, M. Kep, yang di pandu oleh Ns. Fitri Wahyuni, M. Kep., Sp. Kep.An.

Baca Juga   PDIP dan Demokrat Bak Air dengan Minyak

Tak hanya itu, beberapa dosen dan mahasiswa dari prodi S1 Keperawatan seperti Fitri Rahma Sari, Selvia Nabila, dan Kajol Bharira pun turut hadir di kegiatan tersebut. Materi yang disampaikan bertujuan agar santri-santri yang masih di bawah umur tidak keliru mengenai pendidikan seks dan terhindar dari kekerasan atau pelecahan seksual.

Tidak hanya memberikan materi tentang pendidikan seks sejak dini, tim pengabdian pada masyarakat dari Ikatan Alumni STIKes Mercubaktijaya Padang juga memberikan donasi berupa sembako kepada Pondok Pesantren Al-Falah.

Rizka Ausrianti mengatakan, pendidikan seks bisa ditanamkan sejak dini saat anak mulai mengajukan pertanyaan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas. Dari hal tersebut, orang tua mulai menanamkan pendidikan seks mulai dari tingkat yang paling dasar seperti pengenalan organ tubuh dan fungsinya.

1.2 Nal | Buliran.com

“Sejak kecil anak-anak harus diberikan edukasi seksualitas, kenapa tidak boleh atau dilarang melakukan ini dan itu, apa yang harus dilakukan dan dijaga, supaya mereka punya integritas diri, tahu ada bagian penting dari tubuhnya yang tidak

boleh dipegang orang lain atau diekspos,” papar Rizka. “Agar anak tumbuh menjadi generasi muda yang berkualitas, ada baiknya orang tua memberikan informasi seputar seks sejak dini,” tuturnya.

Anak-anak yang belakangan menggunakan media internet dan/atau telepon genggam saat belajar daring pada masa pandemi Covid-19, harus tetap dalam pengawasan orangtua. Kadang karena kesibukan orangtua kerja, tak ada yang pengawasi anak. Dunia internet terbuka diakses oleh siapa saja. Jika yang diakses dan disalahpami soal pendidikan seks, anak-anak bisa menjadi korban danatau pelaku kekerasan seksual.

Pendidikan seks pada anak-anak sejak dini bisa menjadi pintu gerbang bagi anak-anak untuk lebih tahu bagaimana berprilaku dan berperan sesuai dengan gendernya. Selain itu, mereka juga akan lebih memahami prilaku seksual yang seharusnya dilakukan, memahami kesehatan dan perkembangan reproduksi, hubungan laki – laki dan perempuan serta batasan-batasan yang tidak boleh diabaikan.

“Kami menghimbau orang tua, mari kita mulai menjaga anak, memberikan edukasi seksualitas kepada anak, tidak hanya orang tua tapi orang-orang di sekitar juga berkewajiban untuk melindungi anak-anak,” jelas Rizka.

Baca Juga   Gatot Nurmantyo, Antara Partai & Elektabilitas

Rifka Handayani Putri menambahkan, pendidikan seks di Indonesia masih dianggap menjadi satu hal yang tabu untuk diberikan kepada anak-anak dan remaja. Orangtua dan orang dewasa merasa risih dan enggan saat anak-anak dan remaja menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan seks dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan atau mengatakan pada mereka jika mereka akan tahu dengan sendirinya saat dewasa.

Dengan tidak memberikan jawaban tentang seks secara baik, benar dan jelas kepada anak-anak dan remaja, hal ini akan menimbulkan masalah baru di masyarakat. Perubahan fisik dan hormonal pada remaja saat peralihan dari anak-anak menjadi remaja, membuat mereka merasa ingin tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuh mereka. Remaja yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu, akhirnya akan mencari tahu sendiri atau bertanya ke teman yang tidak sedikit memberikan pengetahuan yang salah kepada mereka mengenai seks.

Padahal pendidikan seks adalah pengetahuan yang berisi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan: anatomi tubuh manusia, sistem reproduksi manusia, proses pembuahan hingga kehamilan, hubungan seksual yang sehat, tingkah laku seksual, penularan penyakit seksual seperti HIV/AIDS.

Pendidikan seks juga mengajarkan soal perkembangan alat kelamin dan perubahan fisik pada wanita dan laki-laki seperti proses menstruasi dan mimpi basah pada laki-laki yang terkadang para remaja terlalu malu untuk bertanya pada orangtua mereka hingga akhirnya mereka pun mencari tahu sendiri melalui mesin pencari di gadget mereka masing-masing atau bertanya ke teman-teman mereka yang tidak jarang mereka mendapatkan informasi yang salah dan tidak tepat.

“Dengan diajarkan nilai-nilai tentang kegiatan seksual yang seharusnya dilakukan oleh orang yang sudah sah sebagai suami istri menurut agama dan negara, hal ini akan membuat remaja memilih untuk tidak melakukan seks di luar nikah karena alat reproduksi yang belum tumbuh sempurna di usia remaja dan belum siapnya mental mereka, papar Rifka.

Dengan diberikannya pengetahuan seks yang disertai dengan nilai-nilai agama dan moral, remaja dapat mengerti dengan konsep menghargai tubuh mereka dan tubuh orang lain dengan tidak menyentuh atau melecehkan orang lain.
Strategi yang baik untuk memulai pendidikan seks kepada anak adalah dilakukan saat mereka masih di usia dini dan dilanjutkan sampai mereka tumbuh dewasa. Dengan memulai pembicaraan mengenai pendidikan seks di usia dini dan dilanjutkan sampai anak tumbuh dewasa akan membuat orangtua lebih mudah dan nyaman dalam menjelaskan ke anak saat anak mencapai usia remaja.

Baca Juga   Jaringan Toko Sembako Cengkeram Ekonomi Rakyat

Banyak orang beranggapan bahwa pendidikan seksual merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan dengan anak sebelum mereka dewasa. Padahal, hal ini justru dapat memberikan pemahaman kepada anak dan membekali anak agar lebih sadar dan peduli dengan kesehatan seksual mereka nantinya.

Pendidikan seksual merupakan informasi penting yang perlu diketahui oleh anak. Melalui diskusi seputar hal-hal yang bersifat seksual, anak pun bisa lebih memahami pentingnya seksualitas sebagai bagian dari kesehatan tubuh, bukan sekadar hubungan antara pria dan wanita.

Pentignya dan manfaat memberikan pendidikan seks untuk anak sejak dini: pertama, mengkal efek buruk media dan lingkungan.Pembahasan seputar seks dapat melindungi anak dari dampak negatif berbagai konten tertentu di tayangan televisi atau internet. Selain itu, pemahaman tentang dunia pergaulan juga harus diberikan agar anak tidak terjerumus dalam hubungan seks bebas atau tindakan kriminal, seperti melakukan pemerkosaan atau kekerasan seksual.

Kedua, membangun kepercayaan antara orang tua dan anak. Membahas seks secara terbuka dengan anak justru memberi orangtua dan atau guru kesempatan untuk memberikan informasi yang sesuai dan akurat seputar seks. Dengan demikian, anak tidak akan mencari sumber sendiri yang belum tentu tepat atau justru tidak layak, misalnya video porno.

Ketika, membuat anak mengerti tentang konsekuensi dan menghargai diri. Diskusi tentang seks membuat anak menyadari bahwa ia harus melindungi dan menghargai tubuhnya sendiri. Seluruh perlakuan terhadap tubuhnya harus mendapatnya persetujuan dari dirinya sendiri dan tidak boleh dipaksakan.
Pendidikan seks juga membuat anak belajar memilih, bersikap, dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Dengan demikian, mereka dapat mengetahui konsekuensi saat mulai aktif secara seksual, seperti kehamilan dan penyakit menular seksual.*

1. Ikatan Almni STIKes Mercubaktijaya Padang dalam pengabdian masyarakat selain memberikan edukasi pendidikan seks sejak dini. (Foto Fitri Rahma Sari)

2. Pengabdian kepada masyarakat Ikatan Alumni STIKes Mercubaktijaya Padang, dalam bentuk pendidikan seks sejak dini oleh para dosen dan donasi untuk anak pesantren. (Foto Fitri Rahma Sari),