Eropa Dihantam Krisis

  • Share

BuliranNews, BERLIN – Benua Eropa kini dilanda sejumlah masalah serius yang terus menghantui dan membelit masyarakat di benua biru itu. Setidaknya ada empat krisis besar yang tengah melanda kawasan tersebut.

Krisis energi misalnya masih terjadi hingga saat ini dan mengancam warga benua itu gelap gulita di musim dingin ini, akibat kenaikan harga gas dan pasokan minim. Covid-19 pun kembali lagi di mana Eropa menjadi episentrum dunia kini.

1. Krisis Energi dan Listrik

Eropa kembali berisiko mengalami pemadaman listrik di musim dingin ini. Pasalnya cadangan gas yang ada, kini tidak mencukupi dalam jangka panjang.

Belum lagi harga minyak dunia diprediksi naik di atas US$ 100 per barel. Permintaan akan energi fosil melonjak signifikan ketika ekonomi global kembali dibuka pasca pembatasan Covid-19 dan memicu lonjakan harga, termasuk batu bara.

“Kami tidak memiliki cukup gas saat ini,” kata Kepala Eksekutif salah satu perusahaan perdagangan komoditas independen dan logistik yang terkemuka di dunia, Trafigura, Jeremy Weir, dikutip Kamis (18/11).

“Terus terang, kami tidak menyimpannya untuk periode musim dingin. Jadi ada kekhawatiran nyata bahwa ada potensi jika kita memiliki musim dingin yang diiringi pemadaman bergilir di Eropa.”

Meski penyuplai gas utama Eropa- perusahaan negara Rusia Gazprom- mulai mengisi fasilitas penyimpanan di benua itu pekan lalu, namun kapasitas pipa lebih rendah di Desember. Beberapa anggota perlemen Eropa menuduh Moskow membatasi pasokan untuk menekan Jerman mempercepat izin Nord Strean 2.

Belum lagi penurunan ekspor dari Norwegia, pemasok utama lain gas Eropa dan Inggris, di minggu ini. Pemasok di negeri itu tengah melakukan pemeliharaan infrastruktur gasnya.

Dalam FT Commodities Asia Summit ia juga menegaskan minyak tak akan membantu banyak. Pasarnya sangat ketat, belum lagi isu “perubahan iklim” membuat banyak perusahaan minyak tertekan dan menurunkan investasi untuk produksi baru.

“Saya pikir orang perlu menyadari bahwa ini bukan situasi di mana Anda mungkin hanya menekan tombol dan meningkatkan produksi. Ada banyak investasi, perlu waktu untuk melakukan itu,” kata Weir.

Baca Juga   Manusia Kian Tersingkir, Robot Mulai Masuki Pabrik

“Saya pikir kita punya sedikit masalah yang membayangi harga minyak dalam jangka panjang, saya pikir $100 plus minyak … (adalah) sangat mungkin.”

Sementara itu, harga gas alam kembali melonjak di Eropa. Ini terjadi setelah penundaan persetujuan pipa gas Nord Stream 2 yang mengalir dari Rusia.

Regulator Jerman mengatakan konsorsium pengelola Nord Stream yang berbasis di Swiss harus membentuk anak perusahaan di Jerman dengan hukum Negeri Panser untuk dapat izin beroperasi. Hal ini kemudian disebut Rusia “memperumit proses” meski menolak adanya unsur politik di dalamnya.

Hal ini memperburuk kekhawatiran tentang apakah benua itu akan memiliki cukup gas untuk musim dingin. Langkah Jerman meredupkan harapan pasar akan stok gas yang signifikan.

2. Covid-19

Eropa kini menjadi episentrum Covid-19. Kenaikan kasus terjadi hampir di seluruh kawasan, terutama Jerman, Belanda, Belgia, dan beberapa negara Eropa Timur.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan membunyikan peringatan terbaru. Badan PBB itu menyebut bahwa Eropa menjadi satu-satunya wilayah dunia yangmengalami kenaikan angka kematian akibat Covid-19 saat ini.

Mengutip Straits Times, WHO mencatat bahwaEropa telah mencatat 28.304 kematian baru dalam seminggu terakhir. Sementara itu, dari 3,3 juta kasus baru Covid-19 yang dilaporkan secara global, 2,1 juta kasus berasal dari Eropa.

“Negara-negara di Eropa dengan jumlah kasus virus corona baru tertinggi adalah Rusia (275.579), Jerman (254.436) dan Inggris (252.905),” kata laporan WHO dikutip Kamis, (18/11).

Direktur Jenderal WHO TedrosAdhanomGhebreyesusmengaku bahwa ini merupakan tanda-tanda bahwa masyarakat dunia harus tetap mematuhi protokol kesehatan meski telah menerima vaksin.

“Ini adalah pengingat lain, seperti yang telah kami katakan berulang kali, bahwa vaksin tidak menggantikan kebutuhan akan tindakan pencegahan lainnya”, kata pria asal Ethiopia itu.

“Vaksin mengurangi risiko rawat inap, penyakit parah, dan kematian, tetapi tidak sepenuhnya mencegah penularan”.

Para pemimpin Eropa pun memperkuat sikapnya pada orang-orang yang enggan divaksinasi di benua itu. Bahkan sejumlah langka isolasi akan dilakukan karena gelombang serangan Covid-19 yang makin mengkhawatirkan seiring masuknya musim dingin di kawasan tersebut.

Baca Juga   Biadab! Kepala Raja Dipenggal, Hatinya Dikeluarkan Lalu Istrinya Dianiaya

Austria muncul lebih dulu sebagai negara yang me-lockdown penduduk yang enggan divaksin sejak Senin (15/11). Hal yang sama juga dilakukan Jerman kepada orang-orang yang belum diinokulasi secara nasional.

3. Krisis Migran

Krisis migran juga memanas di Eropa. Bahkan ketegangan terjadi di perbatasan Polandia dan Belarusia terjadi Selasa (16/11).

Pasukan keamanan Polandia dilaporkan bentrok dengan migran yang kebanyakan berasal dari Afrika, Timur Tengah dan Afghanistan, di perbatasan Belarusia. Dalam rekaman video para migran melempari petugas dengan batu sehingga membuat Polandia mengarahkan meriam air ke para pengungsi.

Dikutip dari Reuters, video juga menunjukkan bagaimana para migran melemparkan botol dan balok kayu ke tentara Polandia. Mereka menggunakan tongkat untuk mencoba menerobos pagar negara itu.

Rekaman yang dibagikan oleh juru bicara pemerintah dan Kementerian Pertahanan Polandia menunjukkan eskalasi lebih lanjut dari krisis di perbatasan tersebut. Di sana, migran berkumpul dalam jumlah yang terus meningkat sejak minggu lalu.

Kementerian Dalam Negeri Polandia mengatakan seorang polisi terluka parah akibat dilempari sebuah benda ke seberang perbatasan. Kini dia sedang berada di rumah sakit dengan tulang tengkorak yang diduga retak.

Tidak hanya itu, Kementerian Pertahanan Polandia sempat mencuit di Twitter bahwa pihak berwenang Belarusia telah memberikan granat suara kepada para migran. Alat ini digunakan untuk dilemparkan ke tentara dan penjaga perbatasan Polandia.

Sebagaimana diketahui, Belarusia menjadi tempat ribuan orang berkumpul untuk bermigrasi ke Uni Eropa (UE). Negara ini dituduh UE sedang mengacaukan blok dengan mendorong migran melintasi perbatasan secara ilegal.

Akibatnya, UE tengah mempersiapkan sanksi lebih lanjut terhadap Belarusia. Migrasi besar-besaran juga terjadi atas tindakan keras terhadap protes pemilihan kembali Presiden Alexander Lukashenko tahun lalu.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan dia sangat prihatin. Belarus dikatakannya membahayakan nyawa para migran yang tidak bisa masuk ke negara manapun.

Juru bicara pemerintah Polandia mengatakan pemerintah sedang mendiskusikan apakah akan meluncurkan konsultasi formal mengenai krisis tersebut dengan sekutu NATO. “Kami sedang mempersiapkan hasil yang pesimistis – bahwa konflik ini dapat berlangsung selama berbulan-bulan,” kata juru bicara Piotr Muller dalam konferensi pers.

Baca Juga   Saatnya Sistem Pemenjaraan di Indonesia Direvisi

Menurut pihak berwenang Polandia, lebih dari 20.000 anggota polisi, penjaga perbatasan dan tentara memperkuat perbatasan tempat para migran berkumpul di dekat kota Kuznica di Polandia. Diperkirakan 4.000 migran berada di perbatasan dan banyak yang mengatakan pihak berwenang Belarusia tidak mengizinkan mereka kembali ke Minsk.

Pemimpin partai berkuasa Polandia Jaroslaw Kaczynski mengatakan negaranya sedang menghadapi perang hibrida. “Kami memiliki perang hibrida, tetapi perang yang sebenarnya, dengan senjata, tidak ada di cakrawala kami. Kami menghadapi musuh yang tidak terduga,” kata Kaczynski kepada radio publik Polandia.

4. Ancaman Perang di Laut Hitam

Selain masalah di atas, Eropa juga menghadapi ancaman perang di Laut Hitam. Situasi semenanjung Krimea terus memanas antara NATO yang dikomandani AS dengan Rusia.
Jet tempur Rusia dikabarkan mencegat sebuah pesawat Angkatan Udara Inggris, pekan lalu. Dalam sebuah pernyataan yang dimuat kantor berita negara, RIA, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pesawat Inggris terbang di dekat perbatasannya. Posisinya sekitar 30 kilometer dari teritorinya.

“Pesawat pegintai Inggris RC-135 mencoba mendekati perbatasan Federasi Rusia di wilayah bagian barat daya semenanjung Krime,” tegas kementerian, dikutip dari Newsweek.


Rusia sendiri mengirimkan Su-30 untuk mendesaknya pergi. Rusia menyebut jet Inggris berbalik ketika jet Rusia mendekat.

Krimea merupakan titik panas di Eropa. Moskow dicap Barat mencaplok wilayah itu dari Ukraina DI 2014.

Rusia juga mengkritik Amerika Serikat (AS) dan NATO di Laut Hitam. Aktivitas NATO di kawasan itu meningkat seiring permintaan Ukraina dan pengumuman latihan militer.

“Latihan (militer) tak terjadwal di dekat perbatasan kami ini menunjukkan tindakan agresif AS yang sama sekali tidak diprovokasi oleh Rusia, yang menciptakan ancaman bagi keamanan regional dan stabilitas strategis,” tegas kementerian dikutip TASS.

TASS melaporkan kapal penjelajah rudal Rusia Moskva dan fregat Essen juga tengah melacak kapal perang AS di Laut Hitam. Rusia menegaskan ada skenario penggunaan kekuatan untuk menyelesaikan konflik. (*/sef)

  • Share