Nopia, Camilan Khas Banyumas yang Unik dan Enak

Avatar Of Teddy Chaniago
6.2 Nopia | Buliran.com

Sejarah Nopia di Banyumas

Nopia ternyata dipopulerkan oleh keluarga keturunan Tionghoa pada 1880-an. Karena rasanya yang enak dan dibuat dengan bahan khas Jawa, yakni gula merah dan bawang merah goreng, kue ini pun dengan cepat menarik perhatian masyarakat lokal. Setelah itu, masyarakat Banyumas pun mulai banyak yang ikut memproduksinya.

Kini, sejumlah dareah yang dikenal sebagai sentra produksi nopia adalah Desa Sudagaran, Desa Pekunden, dan Desa Kalisube yang ada di Kecamatan Banyumas. Tingginya minat wisatawan yang ingin menjadikannya oleh-oleh membuat jajanan ini pun ikut jadi buah tangan khas kabupaten tersebut.

Kamu tahu nggak kalau nopia juga punya nama lain? Ada lo sejumlah warga Banyumas asli yang mengenalnya dengan istilah “ndog gludgug”. Kalau diartikan sih artinya adalah telur halilintar. Ada juga yang menamainya dengan telur gajah atau telur bulus (penyu). Kalau gajah sih nggak bertelur ya, tapi kalau penyu memang bertelur dan terkadang nopia memang dianggap mirip dengan telurnya. ***

Baca Juga   Sala Lauak, nan Khas dari Pariaman