Campak Tewaskan 100 Orang di Afghanistan

  • Share

BuliranNews, KABUL – Derita tiada henti harus dihadapi oleh negara Afghanistan. Tidak hanya harus menghadapi pandemi Covid-19, Afghanistan juga harus mengalami wabah campak. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, hampir 100 orang di negara tersebut tewas akibat penyakit menular itu.

Badan kesehatan PBB tersebut menyebut wabah itu sangat mengkhawatirkan. Mereka memperingatkan akan ada lebih banyak lagi kematian akibat campak, apalagi Afghanistan sedang menghadapi kerawanan pangan dan kekurangan gizi yang melonjak.

“Untuk anak-anak yang kekurangan gizi, campak adalah hukuman mati,” kata Juru Bicara WHO, Margaret Harris, kepada wartawan di Jenewa melalui tautan video dari Kabul, dikutip dari AFP, Jumat (12/11).

Lanjut Harris, lebih dari tiga juta anak di bawah usia lima tahun di negara itu diperkirakan akan menderita kekurangan gizi akut pada akhir tahun ini. Lebih dari satu juta dari mereka dapat menderita malnutrisi yang paling parah dan berisiko meninggal.

Meski begitu, kata Harris, WHO tidak memiliki angka spesifik untuk berapa banyak anak yang meninggal karena kekurangan gizi di negara itu.

Selain itu, Harris juga menekankan perlunya segera meningkatkan pengawasan dan pengujian penyakit di negara itu. Namun tanpa pemantauan yang memadai, dia mengatakan jelas bahwa “wabah campak sedang mengamuk.”

“Kami telah melihat jumlah kasus yang lebih tinggi tahun ini dan kami melihat kasus baru setiap hari,” katanya.

Sejak awal tahun, lebih dari 24.000 kasus penyakit yang sangat menular telah didiagnosis secara klinis di Afghanistan, termasuk 2.397 kasus yang dikonfirmasi laboratorium.

“Sayangnya, kami memiliki 87 kematian yang dilaporkan,” kata Harris, menambahkan “kita akan melihat lebih banyak lagi jika kita tidak melanjutkan ini dengan cepat.”

Baca Juga   Tawuran Antargeng di Tahanan Ekuador Tewaskan 68 Napi

PBB telah berulang kali memperingatkan, Afghanistan berada di ambang krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Lebih dari separuh negara itu menghadapi kekurangan pangan akut. Musim dingin juga memaksa jutaan orang untuk memilih antara migrasi dan kelaparan. (*/tfa)

  • Share