Leuwinanggung Gelar Sosialisasi Penyusunan Dokumen Kelurahan Sehat

  • Share

BuliranNews, DEPOK – Mewujudkan Indonesia Sehat bukanlah sebuah pekerjaan mudah, namun sebaliknya bukan sesuatu yang mustahil jika masyarakat dan para pemangku kepentingan (stakeholder) mau bahu membahu untuk merealisasikannya.

Secara umum, Indonesia Sehat tak akan terwujud kalau tak dimulai dari Keluarga Sehat, Kelurahan/Desa Sehat, Kabupaten.Kota Sehat, Provinsi Sehat barulah ujungnya menjadikan Indonesia Sehat.

Guna menyikapi hal itu, Kelurahan Leuwinanggung melaksanakan sosialisasi penyusunan dokumen kelurahan sehat tahun 2021 dengan menghadirkan nara sumber dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Depok, dr Hidayat Nuh Ghazali. M. Epid.

Camat Tapos, Abdul Mutolib yang membuka sosialisasi kegiatan tersebut mengatakan bahwa kesehatan adalah milik bersama, karena itu maka menjadi tanggung jawab bersama juga untuk mewujudkannya.

“Kegiatan ini sangat besar artinya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat Kecamatan Tapos, khususnya di Kelurahan Leuwinanggung. Dan dengan melibatkan banyak pihak tentunya diharapkan proyeksi Depok Sehat bisa segera terealisasi,” kata Abdul Mutolib menjelaskan.

Pak Camat menyebutkan, terkait 10 indikator dalam PHBS maka indikator di point kesepuluh harus mendapat perhatian bersama karena inilah yang sangat sulit untuk melaksanakannnya.

“Bagi bapak-bapak yang merokok, janganlah merokok di dalam rumah. Jika ingin merokok juga, sebaiknya ke luar dari rumah. Namun yang terbaik, justru jangan merokok sama sekali,” ucapnya.

Sementara itu, Lurah Leuwinanggung, Sanan Hidayat menyebutkan bahwa pembudayaan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) jangan hanya sebuah catatan kecil saja dalam kehidupan masyarakat. Namun benar-benar dibudayakan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“10 indikator yang termaktub dalam PHBS harus dilaksanakan, jangan hanya dihapalkan,” katanya mengingatkan.

Sanan merinci, dari 10 indikator tersebut, mulai dari Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan,Memberi ASI ekslusif, Menimbang balita setiap bulan, Menggunakan air bersih, Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, Menggunakan jamban sehat, Memberantas jentik di rumah sekali seminggu, Makan buah dan sayur setiap hari, Melakukan aktivitas fisik setiap hari serta indikator terakhir yaitu Tidak merokok di dalam rumah, justru yang selalu jadi persoalan adalah indikator tersebut yang sangat sulit dilaksanakan.

Baca Juga   Rahasia Perut Rata dari Diva Dua Lipa

“Seperti yang dikatakan Pak Camat, persoalan merokok inilah yang sebenarnya menjadi pekerjaan rumah yang harus dilaksanakan dengan penuh komitmen,” ucapnya.

Sementara itu, dr Hidayat Nuh Ghazali. M. Epid dalam makalahnya menyebutkan, derajat kesehatan masyarakat sangat ditentukan oleh empat faktor utama yang sangat esensial. Diantaranya adalah pelayanan kesehatan (20 %), faktor genetika (keturunan) dengan persentase sebesar 10%, faktor lingkungan (40%), faktor prilaku (30%)

“Mewujudkan Indonesia sehat, sangat ditentukan bagaimana kesehatan keluarga terlebih dahulu bisa diwujudkan. Jika telah bagus tentunya baru bicara kelurahan sehat, kecamatan sehat, kabupaten/kota sehat, provinsi sehat baru ujungnya bisa direalisasikan Indonesia sehat,” jelasnya.

dr Hidayat juga mengatakan, Indikator Kesehatan Lingkungan 2020-2024 telah ditetapkan secara bersama-sama oleh pemerintah. Dimana pada RPJMN 2021 persentase desa/kelurahan stop buang air besar sembarangan (SBS) adalah sebesar 50% dan di tahun 2024 menjadi 90%.

Sementara tahun ini, jumlah kabupaten/kota sehat ditarget sebanyak 220 daerah dan baru optimal sebanyak 420 daerah di tahun 2024.

Begitupun dengan persentase sarana air minum yang diawasi /diperiksa kualitas air minumnya sesuai standar mencapai 64% dari target 76% di tahun 2024.

Jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang melaksanakan pengelolaan limbah medis sesuai standar yang tahun ini ditargetkan 3.000 unit dengan perincian 2.016 unit rumah sakit ditambah 984 unit pusat kesehatan masyarakat. Di tahun 2024, targetnya adalah 8.800 fasyankes dengan perincian 2.881 rumah sakit ditambah 5.919 pusat kesehatan masyarakat.

Persentase tempat pengelolaan pangan (TPP) yang memenuhi syarat sesuai standar yang akhir tahun ini ditarget 44% menjadi 62 % di tahun 2024. Untuk persentase tempat dan fasilitas umum (TFU) yang dilakukan pengawasan sesuai standar sebesar 60% akhir tahun 2021 menjadi 75 % di penghujung tahun 2024.

Baca Juga   Waduh, WHO Kembali Berikan Kabar Buruk! Silahkan Ikuti

“Karena semuanya telah disusun secara seksama dan sistematis, tinggal bagaimana kader-kader kesehatan di ssetiap wilayah bisa merealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat,” tutur dr Hidayat mengakhiri. (ted)

  • Share